STARJOGA.COM, JOGJA— Kanker usus besar kini menjadi ancaman serius bagi warga Yogyakarta. Berdasarkan data Departemen RSUP dr. Sardjito, kanker kolorektal atau usus besar saat ini menempati peringkat kedua kanker yang paling sering dijumpai di Yogyakarta.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUP dr. Sardjito, dr. Ies Judan Lastramaputra, SpPD, Subspesialis Onkologi Medik Konsultan mengatakan bahwa meningkatnya kasus kanker usus besar pada usia muda ini sangat berkaitan erat dengan faktor genetik dan gaya hidup.
“Kalau pada usia muda biasanya karena genetik, tapi kalau di usia tua memang ada peran gaya hidup. Gaya hidup yang dimaksud yang utama tentu saja merokok, kemudian kurang konsumsi sayur dan buah, serta tingginya konsumsi daging yang diproses seperti sosis, nugget, dan tempura,” jelas dr. Ies Judan dalam program Health Talkshow bersama FKKMK UGM pada Jumat, 24 April 2026.
Dr. Ies Judan juga mengimbau masyarakat untuk mengenali gejala awal kanker usus besar yang ditandai dengan BAB berdarah, pola tidak teratur, hingga bentuk feses yang mengecil seperti kotoran kambing.
Sayangnya, banyak pasien yang sering salah mengira gejala ini sebagai ambeien biasa sehingga penanganannya tertunda hingga satu sampai dua tahun. Akibatnya, hampir 50 persen pasien yang datang ke RSUP dr. Sardjito sudah berada pada stadium akhir atau stadium empat yang telah menyebar ke organ lain.
“Kalau ambeien itu sifatnya licin dan tidak banyak lendir. Kalau kanker biasanya berbenjol-benjol, mudah berdarah, dan banyak lendir. Maka prinsipnya jika ada keluhan di area dubur, disarankan segera pemeriksaan colok dubur ke medis,” ujarnya.
Bagi pasien yang sudah terdeteksi pada stadium tiga dan empat, kemoterapi menjadi hal yang wajib dilakukan karena kondisi kanker yang sudah menyerang organ tubuh lain. Pengobatan ini biasanya dilakukan selama enam bulan.
Meskipun kemoterapi kerap ditakuti karena efek samping yang beragam, dr. Ies Judan menegaskan bahwa pengobatan ini dihitung secara matematis agar manfaatnya jauh lebih besar daripada risikonya.
Untuk itu, pihak Kemenkes kini telah menggencarkan program skrining gratis melalui pemeriksaan darah samar dan colok dubur bagi warga berisiko tinggi atau di atas usia 45 tahun agar kanker dapat ditangani sejak stadium awal tanpa perlu melalui proses kemoterapi yang panjang.
Baca juga: WHO Proyeksikan Kasus Kanker Global Naik Jadi 35 Juta pada 2050
Penulis: Ulima Fauzia Elisa






Comments