STARJOGJA.COM,INFO.Kemenkes Soroti Kematian Dini di Usia 35 Tahun ke Atas. Gaya Hidup Jadi Faktor Utama fenomena ini
Banyak orang menganggap penyakit serius baru mengintai saat memasuki usia lanjut. Namun, data terbaru Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan fakta yang berbeda. Risiko kematian dini di Indonesia justru mulai meningkat sejak usia produktif, yakni pada rentang 35–39 tahun.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, mengungkapkan bahwa meski usia harapan hidup masyarakat Indonesia terus meningkat, tantangan kesehatan baru muncul dalam bentuk tingginya angka penyakit kronis yang menyerang kelompok usia produktif.
Saat ini, usia harapan hidup penduduk Indonesia mencapai sekitar 74 tahun, naik dibandingkan beberapa tahun sebelumnya yang berada di kisaran 72 tahun. Namun, usia hidup sehat masyarakat Indonesia masih relatif rendah, yakni sekitar 60 tahun.
Artinya, banyak orang memang hidup lebih lama, tetapi harus menjalani tahun-tahun berikutnya dengan berbagai masalah kesehatan.
Menurut Maria, tren kematian dini atau premature death menjadi perhatian serius karena mulai meningkat pada kelompok usia 35–39 tahun.
“Meski angka kematian bayi dan usia muda menurun, kematian pada usia sebelum rata-rata harapan hidup masih cukup tinggi dan mulai meningkat sejak usia 35 hingga 39 tahun,” ujarnya dalam Seminar Nasional Membangun Peradaban Teknologi Pangan untuk Future and Healthy Food di Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Kondisi ini menjadi alarm bagi generasi muda yang selama ini merasa masih jauh dari risiko penyakit kronis.
Perubahan pola penyakit di Indonesia kini didominasi oleh penyakit tidak menular. Stroke masih menjadi penyebab kematian nomor satu di Indonesia, disusul penyakit jantung iskemik yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Selain itu, diabetes dan gagal ginjal juga menunjukkan tren kenaikan yang signifikan hingga masuk dalam daftar penyebab kematian tertinggi secara nasional.
Menurut Kemenkes, berbagai penyakit tersebut sebenarnya memiliki benang merah yang sama, yaitu gaya hidup dan pola makan yang kurang sehat.
Maria menjelaskan bahwa tingginya kasus diabetes, hipertensi, obesitas, hingga penyakit jantung sangat berkaitan dengan kebiasaan konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak (GGL).
Makanan dan minuman manis, camilan tinggi kalori, makanan cepat saji, hingga kurangnya aktivitas fisik menjadi kombinasi yang memperbesar risiko penyakit kronis sejak usia muda.
“Kenapa bisa jantung, stroke, atau gagal ginjal? Karena sangat dipengaruhi diabetes, hipertensi, dan obesitas yang berkaitan erat dengan pola makan sehari-hari,” jelasnya.
Fenomena anak muda yang tiba-tiba mengalami serangan jantung saat berolahraga atau beraktivitas fisik juga menjadi perhatian pemerintah.
Menurut Maria, penyakit kardiovaskular sering berkembang tanpa gejala yang jelas. Berbeda dengan penyakit infeksi yang biasanya disertai demam atau keluhan yang mudah dikenali, penyakit jantung dan pembuluh darah kerap berkembang diam-diam hingga akhirnya menimbulkan kondisi darurat.
Karena itu, banyak orang baru menyadari memiliki masalah kesehatan ketika penyakit sudah memasuki tahap serius.
Kemenkes menilai masalah kesehatan usia produktif tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga masa depan Indonesia.
Dalam 10–15 tahun ke depan, Indonesia akan memasuki periode penting menuju Indonesia Emas 2045 dengan jumlah penduduk usia kerja yang sangat besar. Namun, jika penyakit kronis terus meningkat pada kelompok usia produktif, produktivitas nasional berpotensi menurun.
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah mendorong pendekatan kesehatan yang lebih berfokus pada pencegahan melalui pola makan sehat, aktivitas fisik yang cukup, pemeriksaan kesehatan rutin, serta pengurangan konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih.
Bagi generasi muda, pesan utamanya sederhana: hidup lebih lama saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah menjaga tubuh tetap sehat dan produktif sejak sekarang agar kualitas hidup tetap terjaga hingga usia lanjut.
Baca juga : Jalan Kaki 4.000 Langkah Turunkan Risiko Kematian Dini







Comments