STARJOGJA.COM, Info – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memproyeksikan jumlah kasus kanker baru di dunia akan meningkat hampir dua kali lipat menjadi sekitar 35 juta kasus per tahun pada 2050. Peningkatan itu dipicu oleh bertambahnya usia harapan hidup, perubahan gaya hidup, polusi, serta masih terbatasnya akses terhadap deteksi dini dan layanan pengobatan di sejumlah negara.
Saat ini, WHO mencatat terdapat sekitar 20,6 juta kasus kanker baru setiap tahun. Penyakit tersebut menyebabkan hampir 10 juta kematian setiap tahun dan menjadi penyebab kematian terbesar kedua di dunia setelah penyakit kardiovaskular.
WHO menilai lonjakan kasus kanker dipengaruhi oleh pertumbuhan populasi, penuaan penduduk, meningkatnya angka obesitas, kurangnya aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, konsumsi tembakau dan alkohol, hingga paparan polusi udara. Di sisi lain, banyak pasien di negara berpendapatan rendah dan menengah baru mendapatkan diagnosis saat kanker telah memasuki stadium lanjut karena keterbatasan layanan skrining, diagnosis dini, radioterapi, dan obat-obatan.
“Kami jelas melihat peningkatan jumlah kasus kanker, dan yang sama mengkhawatirkannya adalah banyak kanker didiagnosis pada usia yang lebih muda. Alasannya kemungkinan multifaktorial, mulai dari polusi udara, obesitas, gaya hidup tidak aktif, pola makan tidak sehat, penggunaan tembakau dan alkohol, hingga keterlambatan diagnosis,” ujar Kepala Onkologi Medis (Payudara dan Toraks) Apollo Athenaa Women Cancer Centre, Dr. Bhuvan Chug, dikutip dari Times Entertainment, Minggu (12/7/2026).
Menurut Chug, upaya menekan angka kanker harus dimulai dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Langkah tersebut meliputi meningkatkan aktivitas fisik, menjaga berat badan ideal, mengonsumsi makanan bergizi, mengurangi makanan olahan, serta menghentikan konsumsi tembakau.
Ia juga menilai perluasan program skrining kanker payudara, serviks, mulut, dan kolorektal menjadi langkah penting agar penyakit dapat dideteksi lebih dini. Selain itu, vaksinasi HPV untuk mencegah kanker serviks dan vaksin hepatitis B untuk menurunkan risiko kanker hati juga dinilai berperan besar dalam pencegahan.
WHO merekomendasikan pengendalian konsumsi tembakau, penerapan pola makan sehat, peningkatan aktivitas fisik, pembatasan konsumsi alkohol, vaksinasi HPV, serta pengurangan paparan faktor risiko lingkungan sebagai strategi utama untuk menekan peningkatan kasus kanker. Bersama International Agency for Research on Cancer (IARC), WHO juga mendorong setiap negara memperkuat sistem pengendalian kanker melalui peningkatan layanan pencegahan, deteksi dini, pengobatan, hingga perawatan jangka panjang.
Chug menambahkan peningkatan akses terhadap layanan diagnosis, pembedahan, radioterapi, dan obat-obatan yang terjangkau menjadi faktor penting untuk meningkatkan angka harapan hidup pasien kanker.
Sumber : Bisnis







Comments