JogjaKUKota JogjaNewsUniknya Jogja

Ketoprak Mataram di Persimpangan: Bertahan Lewat Warisan Maestro dan Inovasi

0
ketoprak mataram

STARJOGJA.COM,JOGJA — Ketoprak mataram, seni pertunjukan tradisional Jawa, terus berdenyut di Yogyakarta meski dihadang arus hiburan digital dan menurunnya minat generasi muda. Para maestro, pegiat, dan pemerintah daerah berupaya menjaga tradisi ini tetap relevan tanpa kehilangan roh budayanya.

Ketoprak Mataram dikenal memadukan dialog berbahasa Jawa, iringan gamelan, lawakan, hingga filosofi hidup. Lakon yang diangkat beragam, dari sejarah Mataram, legenda rakyat, hingga cerita keseharian. Ciri khas yang masih dijaga adalah bunyi keprak—kentongan kayu yang dipukul sutradara—sebagai penata ritme adegan.

Maestro Marsidah, puluhan tahun mengabdi di panggung ketoprak, menuturkan awal perjalanannya yang justru lahir dari komunitas kampung dan siaran radio RRI.

“Oh, saya itu jan-jannya enggak punya pengalaman ketoprak sama sekali. Orang keluarga saya juga bukan keluarga kesenian, ya. Enggak ada yang seni, tapi karena teman aja,” ujarnya.

Ia meneladani Bu Giyem sebagai panutan akting, dan mengaku peran antagonis selalu menantang karena menuntut kecerdasan laku serta olah pikir.

“Saya tuh yang paling senang itu yang dulu… namanya Bu giyem itu ketoprak sepuh, tapi jadi apa-apa itu penak gitu loh. Jadi sepuh apik ya penak, jadi… nyuwun sewu, walau ada jadi wong… ya antagonis itu, ya, bagus gitu loh,” jelasnya.

Bagi Marsidah, esensi ketoprak adalah unggah-ungguh: sopan santun, tata krama, dan kebijaksanaan Jawa yang menuntun cara bergaul hingga membawa diri di masyarakat.

“Kita bisa nlungguhke, kita itu berdiri di mana, bisa srawung dengan orang lain, kita bisa menghargai, yang ternyata istilah sopan santun lah gitu lah. Apalagi kita wong Yogja, ya? Wong Jawa tulen itu yang namanya sopan santun tuh masih harus dipegang teguh,” tuturnya.

Ia berpesan agar anak muda berani “srawung” dengan lintas generasi demi mencegah punahnya tradisi.

“Saya cuma… penginnya tolonglah kesenian tradisi kita, jarene Yogyakarta inilah memburi kesenian-kesenian tradisi ketoprak, ya. Kalau wayang orang di Solo, di Semarang, kalau Yogja kan ketoprak. Mbok, ayo… bukan kok melu-melu, tapi harus kita dalami,” harapnya.

Sejalan dengan itu, maestro Widayat menekankan kedisiplinan metode latihan sebagai kunci pendalaman peran—dari artikulasi, intonasi, diksi, hingga latihan berpidato dalam berbagai situasi—untuk menimbulkan imajinasi audiens, termasuk di ketoprak radio.

“Sebetulnya tantangannya itu hanya… tekun belajar saja. Dan bermain apa saja itu dipersiapkan sebagaimana mestinya, nah, terutama adalah masalah metode latihan. Jadi… saya sudah membiasakan diri setiap mau pentas itu dalam bentuk apa pun saya musti harus latihan. Di dalam latihan itulah kita akan mempelajari bagaimana supaya pementasan itu nanti akan berhasil,” terangnya.

Ia mencatat ketoprak pernah mencapai puncak sebagai profesi yang menjanjikan melalui grup-grup panggung dan siaran, namun kini tersendat oleh minimnya regenerasi dan berkurangnya perhatian negara.

“Sebagai kesenian rakyat yang bersaing ketat dan berdiri tanpa modal, tanpa pembinaan, ketoprak bisa hancur total,” tegasnya, meminta pembinaan berkelanjutan melampaui festival tahunan yang jarang dievaluasi.

Sutradara ketoprak Nano Asmorodono menjadi salah satu sosok yang terus berupaya menghadirkan inovasi dalam pertunjukan ketoprak tanpa meninggalkan akar budayanya. Ia pun belajar banyak dari sosok Widayat dan Marsidah

“Nah, saya kenal Bu Marsidah dan Pak Dayat itu tahun ’74 kira-kira, ya. Tahun ’70-an lah, gitu. Waktu itu kami mengikuti Bu Dirayu itu main ketoprak di Magelang, yaitu Pasar Malam Magelang. Mas Dayat sama Bu Marsidah itu selalu naik bis kalau ke sana, terus… ngetoprak, tidur di sana, paginya dia pulang, gitu. Lah, saya yang menyiapkan tempatnya itu, Bu Marsidah, Pak Widayat itu masih berdua itu. Terus saya mengikuti terus, gitu, sampai saya menjadi anak buahnya di Ketoprak Surya Budaya namanya itu. Wah, itu top-topnya Bu Marsidah, ’80-’90 itu enggak ada yang mengalahkan namanya Bu Marsidah dan Pak Dayat ini,” terangnya.

Dari sisi kreatif, sutradara Nano Asmorodono menawarkan jembatan antara pakem dan zaman. Ia tumbuh menimba referensi dari Widayat dan Marsidah, lalu mengolah ketoprak agar akrab bagi penonton muda tanpa menanggalkan ruhnya: unggah-ungguh, sembahan, dan tembang. Nano memodernkan diksi, konteks, bahkan selipan budaya populer, namun menjaga inti adat.

“Kalau lakon sejarah pakai gawai atau musik rock, tak masalah bila masyarakat menghendaki, selama roh ketoprak—unggah-ungguh—tetap ada,” katanya.

Ia menilai ketoprak tetap hidup karena milik masyarakat, bukan ruang akademik semata; karenanya format pementasan harus adaptif agar cucu-cucu penonton ikut merasa terwakili.

“Untuk menarik anak-anak muda, ya itu kalau saya. Ketoprak ini harus… karena toprak itu milik masyarakat. Timbulnya dari masyarakat, bukan dari akademisi. Lahir dari masyarakat, apa kemauan masyarakat, ya itu… menjadi ketoprak. Makanya ketoprak itu sekarang masih terus eksis, itu anak-anak muda itu. Dibanding kesenian yang lainnya, lho,” terangnya.

Sementara itu, Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan menyebut ketoprak sebagai identitas budaya yang harus dilestarikan. Strateginya: membuat akses lebih mudah, kolaborasi lintas-seni, dan pengenalan yang kontekstual bagi publik yang kerap menganggapnya “kuno”.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetty Martanti menegaskan peran maestro seperti Marsidah dan Widayat sebagai “kamus hidup” yang menjembatani standar estetik antar generasi, sehingga transfer nilai tidak terputus untuk pelestarian ketoprak mataram.

“Ini kan maestro-maestro… yang menjadi jembatan… jembatan antar generasi, gitu. Kalau beliau-beliau ini kan sebenarnya… kamus hidup ketoprak, gitu. Artinya… mereka itu kan… sangat memahami standar-standar ketoprak yang harus kemudian disampaikan kepada generasi saat ini. Nah, kalau sampai itu putus, kan berarti… tidak ada lagi yang kemudian… mampu… menjadi jembatan atau apa ya? mentransmisikan nilai-nilai ketoprak itu sendiri… kepada generasi

Nah, sehingga… beliau-beliau ini adalah maestro yang memang harus kita… libatkan selalu… untuk kemudian… menularkan… menularkan terkait dengan seni… seni pertunjukan ketoprak itu sendiri yang memang mereka sangat paham terkait dengan standar-standar ketoprak itu sendiri,” tegasnya.

Di tengah menyusutnya jumlah kelompok dan panggung, denyut ketoprak Mataram bertahan pada tiga pilar: warisan laku unggah-ungguh, kedisiplinan latihan dan peran teladan para maestro, serta keberanian berinovasi yang tetap berpijak pada pakem.

Pertaruhan berikutnya adalah kontinuitas: pembinaan yang berkelanjutan, ruang tampil yang produktif, dan regenerasi yang hidup lewat srawung lintas usia. Di simpang zaman, ketoprak mencari cara bukan hanya untuk diingat—melainkan untuk kembali dibutuhkan.

Libur Sekolah, MORAZEN Yogyakarta Hadirkan Beragam Aktivitas Untuk Anak dan Keluarga

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in JogjaKU