Lifestyle

Psikolog UMY Ungkap Cara Mengelola Overthinking yang Kerap Dialami Mahasiswa

0
Cara Mengelola Overthinking keseimbangan mental pekerja tanda burnout akibat pekerjaan
ilustrasi stres JIBI

STARJOGJA.COM, Info – Fenomena overthinking menjadi salah satu tantangan kesehatan mental yang semakin banyak dialami generasi muda, termasuk mahasiswa. Psikolog Direktorat Kemahasiswaan dan Karir UMY, Ratih Ratnasari, menjelaskan bahwa kesehatan mental tidak hanya berarti terbebas dari gangguan psikologis, tetapi juga kemampuan mengenali potensi diri, menghadapi tekanan hidup, bekerja secara produktif, dan membangun hubungan sosial yang sehat.

“Berpikir itu baik selama menghasilkan solusi. Namun, ketika pikiran justru membuat kita semakin cemas dan menghambat tindakan, di situlah overthinking mulai menjadi masalah,” jelasnya, Rabu (3/6/2026).

Ratih menuturkan overthinking merupakan pola pikir yang berulang, berlebihan, sulit dihentikan, dan umumnya berfokus pada kemungkinan-kemungkinan negatif. Kondisi ini dapat ditandai dengan terus mengingat kesalahan masa lalu, membayangkan skenario terburuk, sulit tidur, hingga mengalami kelelahan emosional akibat memikirkan hal yang sama secara terus-menerus.

Ia menjelaskan bahwa overthinking sering membentuk siklus negatif yang berawal dari sebuah pemicu. Pikiran yang muncul kemudian memunculkan emosi negatif yang akhirnya memengaruhi perilaku seseorang, seperti menunda pekerjaan, menghindari interaksi sosial, mencari validasi berlebihan di media sosial, hingga menarik diri dari lingkungan sekitar.

“Sering kali yang membuat kita menderita bukan situasinya, tetapi cara kita menafsirkan situasi tersebut,” ungkapnya.

Dalam pemaparannya, Ratih juga memperkenalkan konsep cognitive distortion atau distorsi kognitif, yakni kesalahan dalam cara berpikir yang membuat seseorang mempercayai sesuatu yang belum tentu benar. Bentuknya dapat berupa catastrophizing, all-or-nothing thinking, mind reading, hingga kecenderungan hanya fokus pada sisi negatif suatu peristiwa.

Menurutnya, otak manusia secara alami memang lebih peka terhadap ancaman sehingga pikiran negatif cenderung lebih mudah muncul dan bertahan lebih lama. Jika pola pikir tersebut terus diulang, jalur saraf yang terbentuk akan semakin kuat dan menjadikan overthinking sebagai kebiasaan otomatis.

Ratih menegaskan bahwa overthinking tetap bisa dikelola dengan berbagai cara sederhana. Salah satunya melalui teknik brain dump, yaitu menuliskan seluruh isi pikiran ke dalam kertas tanpa sensor maupun penilaian agar beban mental berkurang dan pikiran menjadi lebih terstruktur.

Ia juga memperkenalkan pendekatan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) yang membantu seseorang mengidentifikasi pemicu, mengenali pikiran otomatis, mengevaluasi fakta yang mendukung maupun menyangkal pikiran tersebut, lalu memilih respons yang lebih rasional. Selain itu, mahasiswa juga didorong untuk mempraktikkan mindfulness, teknik grounding 5-4-3-2-1, berbagi cerita dengan orang terpercaya, serta mencari bantuan profesional jika diperlukan.

“Overthinking mungkin tidak bisa hilang sepenuhnya. Namun, kita bisa belajar mengenali pola pikir kita, memahami emosi yang muncul, dan meresponsnya dengan cara yang lebih sehat,” tutup Ratih.

Materi tersebut mengajak mahasiswa memahami bahwa kesehatan mental bukan tentang menghilangkan seluruh pikiran negatif. Kesehatan mental lebih berkaitan dengan kemampuan mengelola pikiran dan emosi agar tetap dapat menjalani kehidupan secara produktif, sehat, dan bermakna.

Sumber : Humas UMY

Baca juga : Ini Cara Mengatasi Overthingking!

Bayu

Drake Pecahkan Rekor Michael Jackson dengan 14 Lagu Nomor Satu Billboard Hot 100

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Lifestyle