STARJOGJA.COM, Info – Agus Nur Amal alias PM Toh menilai tradisi lisan Indonesia menghadapi tantangan serius di tengah perkembangan media digital. Minimnya regenerasi disebut menjadi ancaman bagi keberlanjutan seni tutur dan cerita rakyat di berbagai daerah.
PM Toh mengatakan banyak pelaku tradisi lisan saat ini berasal dari generasi tua, sementara anak muda mulai menjauh dari kampung dan cerita-cerita lokal yang selama ini diwariskan secara turun-temurun.
“Banyak sekali cerita dari orang-orang tua. Cerita-cerita yang tidak terceritakan itu bukan main luar biasa,” katanya, Sabtu (17/5/2026).
Menurut PM Toh, generasi muda perlu kembali mendekati kampung halaman dan membangun interaksi dengan orang-orang tua. Langkah tersebut dinilai penting agar pengalaman serta cerita lokal yang belum terdokumentasi tidak hilang begitu saja.
Ia menilai tradisi lisan bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari cara masyarakat memahami kehidupan dan membangun cara pandang sosial. Tanpa regenerasi, banyak cerita lokal berisiko hilang bersama para pelaku seni tutur.
Selain aktif mendongeng, PM Toh juga dikenal menggunakan replika televisi bernama TV Eng Ong sebagai medium kritik sosial. Pendekatan tersebut muncul saat konflik Aceh ketika masyarakat mulai kehilangan kepercayaan terhadap informasi di televisi.
“Lalu saya berpikir apa yang bisa menghibur warga kala itu. Kemudian terpikirlah oleh saya kalau begitu saya buat televisi yang cukup besar sehingga masyarakat bisa masuk ke dalam TV itu dan ngomong sendiri,” katanya.
TV Eng Ong dibuat dari kayu dan kardus berukuran besar sehingga warga dapat masuk dan menyampaikan cerita versi mereka sendiri. Melalui pendekatan jenaka dan sederhana, PM Toh menghadirkan ruang ekspresi bagi masyarakat tanpa menggunakan pidato politik secara langsung.
Menurutnya, seni tutur dapat menjadi medium kritik sosial sekaligus sarana mengembalikan suara masyarakat yang tidak terwakili dalam media arus utama.
Sumber : Bisnis
Baca juga: Makna Dirgahayu dan Penulisan yang Tepat







Comments