STARJOGJA.COM, Info – Kandungan fluorida dalam pasta gigi kerap dikhawatirkan berbahaya bila dipakai setiap hari, padahal fluorida termasuk bahan yang direkomendasikan untuk membantu mencegah gigi berlubang. Dokter gigi sekaligus konten kreator Zahrah Almira, yang akrab disapa Rara, mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menghindari pasta gigi berfluorida karena takut keracunan, dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Jumat (23/10/2026).
“Indonesia itu fluoridasi airnya nggak ada sama sekali, jadi kalau mau dapat flouride di Indonesia itu harus makan seafood,” kata drg. Rara.
Berbeda dengan wilayah yang menerapkan fluoridasi air minum secara terencana, kadar fluorida dalam sumber air di Indonesia bervariasi dan cenderung sedikit, bergantung pada kondisi geologi. Fluorida juga bisa diperoleh dari makanan, minuman tertentu, dan produk perawatan gigi, sehingga pasta gigi berfluorida sesuai petunjuk menjadi salah satu langkah yang direkomendasikan lembaga kesehatan.
“Maka dari itu di Indonesia pasta gigi itu harus ada flouridanya. Jangan takut, jangan kayak ah nanti keracunan flourida, itu mitos ya teman-teman,” kata Rara.
Menurut Rara, keracunan fluorida tidak perlu ditakuti karena pasta gigi yang dipakai hanya sebesar biji jagung. Busa dari pasta gigi juga tidak ditelan, melainkan dibuang, sehingga pasta gigi berfluorida dinilai aman bila dipakai sesuai petunjuk.
Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), fluorida membantu memperbaiki mineral enamel yang hilang akibat asam, yang terbentuk saat bakteri di mulut memecah gula. Fluorida juga membuat enamel lebih tahan terhadap serangan asam, dan American Dental Association (ADA) serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pasta gigi berfluorida, dengan WHO menyarankan menyikat gigi dua kali sehari.
Risiko tetap ada bila paparan fluorida berlebihan. Kementerian Kesehatan menjelaskan kelebihan paparan selama masa perkembangan gigi bisa menyebabkan fluorosis, dengan tanda antara lain bercak putih pada gigi, dan pada kasus lebih berat bisa terjadi perubahan warna dan kerusakan permukaan enamel.
Risiko ini menjadi perhatian khusus pada anak yang masih belajar menyikat gigi dan berpotensi menelan pasta gigi. Menurut ADA, anak di bawah tiga tahun memakai pasta gigi sebesar butiran beras, dan anak usia tiga hingga enam tahun sebesar kacang polong, dengan pendampingan orang tua.
National Institutes of Health (NIH) menegaskan pasta gigi bukan produk untuk dikonsumsi. Manfaat fluorida terutama diperoleh lewat kontak langsung dengan permukaan gigi.
Sumber : Antara
Baca juga : Pasta Gigi ini Mampu Cegah Serangan Jantung







Comments