STARJOGJA.COM, Info — Rasa cemas, sulit fokus, dan susah tidur yang terus berulang hingga menghambat pekerjaan bisa menjadi sinyal bahwa kesehatan mental mulai terganggu. Psikiater RS Hermina Jatinegara, dr. Dimas Muhammad, menyebut kesehatan mental seseorang terlihat dari kemampuannya mengelola tekanan tanpa mengganggu fungsi sehari-hari, termasuk tetap produktif dan bersosialisasi.
“Ketika seseorang mengenali kemampuan dirinya, mampu mengelola stres, bekerja produktif, dan berkontribusi secara sosial, itulah sehat jiwa,” kata Dimas dalam diskusi Cara Cerdas Kelola Energi Mental di Tempat Kerja, di Wisma Bisnis Indonesia, Kamis (15/10/2026).
Menurut Dimas, gangguan jiwa dapat ditandai perubahan pada pikiran, perasaan, dan kondisi fisik, seperti sulit fokus, cemas berkepanjangan, dan gangguan tidur. Kecemasan sebenarnya tidak selalu buruk karena membantu seseorang mengantisipasi risiko, tetapi perlu diwaspadai bila berlebihan hingga membatasi aktivitas dan menurunkan produktivitas.
“Kalau perasaan sudah overwhelming, sudah tidak nyaman di pikiran kita, di perasaan kita dalam mengerjakan sesuatu, sudah di luar kapasitas kita, itu tanda kita membutuhkan orang lain,” ujarnya.
Hal serupa berlaku pada stres, yang bisa menjadi eustress ketika mendorong seseorang berkembang, tetapi berubah menjadi distress saat tak terkelola dan memicu frustrasi. Karena itu, Dimas menyarankan setiap orang mengenali kapasitas dirinya dan tidak perlu menunggu kondisi mental menjadi berat untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Bantuan bisa diperoleh dari psikolog maupun psikiater, yang sama-sama dapat memberikan terapi psikologis. Bedanya, psikiater berlatar belakang medis sehingga dapat meresepkan obat bila kondisi pasien memang membutuhkannya.
“Obat itu dibutuhkan ketika secara biologis dia sudah berat banget. Sudah tidak bisa ditangani dengan cara lain, misalnya dengan terapi psikologis atau perubahan lingkungan,” jelas Dimas.
Selain mencari bantuan profesional, seseorang dapat mengenali pola emosinya lewat journaling. Dimas memperkenalkan metode SPERK, yaitu mencatat Situasi, Pikiran, Emosi, Reaksi, dan Konsekuensi untuk melihat pola yang muncul saat menghadapi tekanan.
Teknik sederhana seperti grounding dan latihan pernapasan juga bisa dipakai untuk memberi jeda ketika kecemasan atau emosi meningkat. Meski begitu, Dimas menekankan bahwa setiap orang punya strategi yang berbeda, sehingga teknik mengelola stres perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Sumber : Antara
Baca juga : Tips Menjaga Kesehatan Mental dari Media Sosial







Comments