STARJOGJA.COM, Info – Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengungkapkan lebih dari 3.800 orang meninggal dunia akibat gelombang panas yang melanda negara itu sejak awal 2026. Pemerintah pun menyiapkan langkah mitigasi dengan membangun jaringan fasilitas perlindungan bagi masyarakat dari cuaca ekstrem.
Sanchez menyampaikan hal tersebut saat mengumumkan proyek Climate Shelters Network, Senin (27/7/2026). Menurutnya, gelombang panas telah menjadi ancaman serius bagi keselamatan warga.
“Suhu panas telah merenggut lebih dari 3.800 nyawa,” ujar Sanchez.
Pemerintah Spanyol mengalokasikan 10 juta euro untuk membangun fasilitas perlindungan baru, termasuk di lingkungan sekolah, guna membantu masyarakat menghadapi suhu ekstrem.
“Kami menyetujui pemberian dukungan senilai 10 juta euro untuk mendanai pembangunan tempat-tempat perlindungan baru, termasuk di sejumlah institusi pendidikan,” tambahnya.
Sebelumnya, pemerintah Spanyol menetapkan status darurat nasional di wilayah otonom Madrid serta Provinsi Avila dan Toledo akibat kebakaran hutan yang terus meluas.
Data Kementerian Kesehatan Spanyol menunjukkan suhu ekstrem telah menyebabkan lebih dari 27.000 kematian sepanjang periode 2015–2025. Sementara itu, kebakaran hutan yang melanda Provinsi Avila telah menghanguskan sekitar 50.000 hektare lahan dan disebut sebagai kebakaran terbesar dalam sejarah negara tersebut.
Sepanjang 2026, Spanyol telah mencatat 32 kebakaran hutan besar yang membakar sekitar 153.000 hektare lahan.
Akibat bencana tersebut, sekitar 90.000 warga di Avila, Madrid, dan Toledo telah dievakuasi atau diminta tetap berada di rumah, sedangkan 16.000 warga lainnya di Castellon juga harus dievakuasi.
Pemerintah Spanyol terus memperkuat langkah mitigasi untuk menghadapi dampak perubahan iklim yang memicu gelombang panas dan meningkatkan risiko kebakaran hutan di berbagai wilayah negara itu.
Sumber : Antara







Comments