Lifestyle

 Alergi Protein Susu Sapi pada Anak Perlu Penanganan Berbeda

0
Jogja Kota Layak Anak
Anak-anak bermain di kolam air berwarna putih menyerupai air susu di Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Sabtu (7/3/2020). Fenomena air berwarna putih menyerupai air susu yang berasal dari penggalian sumur bor dengan kedalaman 80 meter tersebut ramai dikunjungi warga, meski himbauan larangan untuk mandi dan mengkonsumsi telah diumumkan. ANTARA FOTO/Abriawan Abhe
STARJOGJA.COM, Info —  Komunikator Kesehatan Laurencia Ardi,  mengingatkan bahwa alergi protein susu sapi dan intoleransi laktosa pada anak merupakan dua kondisi yang berbeda sehingga membutuhkan penanganan yang tidak sama.
Menurut dr. Laurencia, perbedaan utama terletak pada penyebabnya. Alergi protein susu sapi dipicu oleh respons sistem imun terhadap protein susu sapi, sedangkan intoleransi laktosa terjadi karena tubuh tidak mampu mencerna laktosa dengan baik.
“Alergi protein susu sapi melibatkan respons sistem imun, sedangkan intoleransi laktosa berkaitan dengan kemampuan tubuh mencerna laktosa,” kata dr. Laurencia dalam siaran pers Kalbe yang diterima di Jakarta, Sabtu (27/6/2026).
Ia menjelaskan, alergi protein susu sapi yang tidak ditangani dengan baik dapat menurunkan kualitas hidup anak. Gejala yang muncul berulang kali dapat mengganggu aktivitas sehari-hari maupun waktu istirahat, sehingga berpotensi menyebabkan penurunan nafsu makan dan berdampak pada pemenuhan kebutuhan gizi.
Karena itu, pemenuhan nutrisi anak dengan alergi protein susu sapi perlu mendapat perhatian khusus. Salah satunya melalui pemilihan sumber lemak yang sesuai, seperti Medium Chain Triglycerides (MCT) yang lebih mudah dan cepat diserap tubuh sebagai sumber energi.
Selain itu, anak tetap memerlukan asupan protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral dari bahan makanan yang aman, termasuk kebutuhan asam amino esensial, asam lemak omega-3 dan omega-6, serta berbagai zat gizi mikro untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan.
Untuk membantu mengenali alergi makanan, dr. Laurencia menyarankan orang tua memperkenalkan makanan baru secara bertahap dengan menerapkan 3-Day Wait Rule, yakni memberikan satu jenis makanan baru selama tiga hari berturut-turut sebelum mengenalkan makanan lainnya.
Ia juga menganjurkan orang tua membuat food diary atau catatan makanan guna memantau jenis makanan yang dikonsumsi anak beserta respons tubuh yang muncul setelahnya.
“Hal yang terpenting adalah melakukan observasi, mencatat makanan yang dikonsumsi anak serta memperhatikan gejala yang muncul setelahnya,” ujarnya.
Menurut dr. Laurencia, gejala alergi dapat muncul pada saluran pencernaan, kulit, maupun saluran pernapasan dengan tingkat keparahan yang berbeda pada setiap anak.
Meski demikian, ia mengimbau orang tua untuk tidak panik apabila menemukan gejala yang diduga sebagai reaksi alergi. Jika gejala yang muncul mengkhawatirkan setelah anak mengonsumsi makanan tertentu, orang tua sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter agar anak mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Sumber : Antara
Bayu

Kotta GO Market Sukses Hadirkan Ruang Kreativitas dan Kolaborasi

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Lifestyle