STARJOGJA.COM, Info – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengingatkan generasi Z untuk mulai merencanakan kepemilikan rumah sejak usia muda di tengah harga properti yang terus mengalami kenaikan. Pilihan membeli rumah melalui KPR atau menyewa hunian dinilai perlu disesuaikan dengan kondisi finansial masing-masing individu.
Dosen Magister Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMY, Dimas Bagus Wiranatakusuma menilai harga rumah akan terus meningkat karena inflasi serta keterbatasan lahan yang tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduk.
“Harga rumah sebenarnya bukan semakin mahal, melainkan nilai uang kita yang terus menurun akibat inflasi. Sementara itu, rumah, tanah, dan emas merupakan aset yang memiliki nilai intrinsik dan cenderung terus meningkat dibanding uang tunai,” jelasnya di UMY pada Rabu (13/5/2026).
Menurut Dimas, kondisi tersebut membuat rumah tapak berpotensi semakin sulit dimiliki masyarakat di masa depan. Ia bahkan memprediksi Indonesia dapat mengalami situasi serupa dengan beberapa negara maju yang masyarakatnya lebih banyak tinggal di apartemen maupun hunian vertikal lainnya.
Selain harga properti, tantangan terbesar generasi muda saat ini juga terletak pada kemampuan mengumpulkan uang muka dan menjaga kestabilan pembayaran cicilan setiap bulan. Karena itu, KPR masih dianggap menjadi salah satu solusi realistis untuk memiliki rumah.
“Kalau bank konvensional biasanya terlihat murah di awal. Bunganya rendah beberapa tahun pertama, tetapi setelah itu bersifat floating dan bisa naik cukup tinggi setelah periode fixed rate selesai,” ujarnya.
Dimas menjelaskan generasi muda perlu memahami detail skema pembiayaan sebelum mengambil KPR. Menurutnya, tenor pinjaman yang panjang akan membuat total pembayaran semakin besar karena porsi bunga di awal cicilan cukup tinggi.
Ia juga menyebut akad pembiayaan syariah seperti murabahah dan Musyarakah Mutanaqisah (MMQ) dapat menjadi alternatif karena menawarkan sistem pembayaran yang lebih stabil. Pada akad murabahah cicilan bersifat tetap, sementara MMQ menggunakan konsep kepemilikan bertahap melalui kerja sama sewa.
“Kalau ingin total pembayaran lebih murah, MMQ sebenarnya cukup menarik. Namun, memang belum banyak bank yang menawarkan karena margin keuntungannya lebih kecil dibanding murabahah,” jelasnya.
Meski tren menyewa rumah atau tinggal di kos mulai populer di kalangan anak muda, Dimas menilai keputusan membeli maupun menyewa hunian harus tetap mempertimbangkan kemampuan finansial. Ia menyarankan agar cicilan rumah tidak melebihi 50 persen dari total pendapatan rutin.
“Kalau memang belum mampu membeli rumah sekarang, minimal mulai siapkan aset lancar seperti tabungan, emas, atau investasi untuk DP. Yang terpenting adalah mulai merencanakannya sejak dini,” tutupnya.
Sumber : Humas UMY
Baca juga: Membeli Rumah di Masa Kini, Ini Caranya







Comments