STARJOGJA.COM, Info – Keinginan masyarakat untuk tetap terlihat mapan di tengah tren hidup hemat dinilai berkaitan dengan dorongan sosial untuk diterima dalam kelompok gaya hidup tertentu. Pola konsumsi saat ini disebut tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan, tetapi juga menjadi simbol identitas sosial.
“Motivasi kita membeli itu bukan untuk memenuhi kebutuhan, tetapi agar kita bisa masuk ke dalam klub tertentu,” kata Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto kepada ANTARA, Jumat (9/5/2026).
Semiarto menjelaskan masyarakat urban kini menggunakan konsumsi sebagai cara menunjukkan status sosial di lingkungan pergaulan. Menurutnya, penggunaan produk atau merek tertentu kerap membentuk identitas sosial seseorang.
“Misalnya pengguna Apple. HP-nya iPhone, laptop-nya MacBook, semuanya serba Apple. Itu Apple boy, Apple girl,” ujarnya.
Ia menilai konsumsi telah berkembang menjadi bahasa sosial yang menunjukkan seseorang berada dalam kondisi baik dan mampu secara ekonomi. Karena itu, banyak orang tetap mempertahankan simbol-simbol tertentu meski mulai mengurangi pengeluaran lain.
“Konsumsi adalah bahasa sosial. Dia menunjukkan status bahwa ‘I am okay’, saya baik-baik saja,” katanya.
Semiarto mengatakan masyarakat kini cenderung menyesuaikan pola konsumsi agar tetap terlihat relevan secara sosial. Salah satunya dengan tetap nongkrong atau mengikuti gaya hidup tertentu, tetapi dalam versi yang lebih ekonomis.
“Misalnya tetap nongkrong, walaupun enggak tiap malam, mungkin seminggu sekali. Atau nongkrongnya pindah ke tempat yang lebih ekonomis,” ujarnya.
Menurut Semiarto, tekanan untuk terlihat mapan lebih kuat terjadi di kota besar karena ruang konsumsi dan gaya hidup lebih terbuka. Aktivitas seperti nongkrong di kafe, bekerja di co-working space, atau berbelanja di mal telah menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat urban.
“Makan di mal, nongkrong di kafe, co-working space, itu terbuka semua dan jadi bagian dari gaya hidup,” katanya.
Ia menambahkan pengaruh media sosial membuat referensi gaya hidup perkotaan kini menyebar hingga ke daerah. Kondisi tersebut mendorong masyarakat tetap mempertahankan simbol konsumsi tertentu agar tidak merasa tertinggal dari lingkungan sosialnya.
“Kita ingin menjadi seperti orang lain yang kita pandang lebih bagus. Kita ingin join the club,” ujar Semiarto.
Sumber : Antara
Baca juga : Kenapa Makna Hidup Muncul dalam Penelitian Medis







Comments