STARJOGJA.COM, Info – Setelah tiga dekade berada di ketinggian Gunung Everest, jenazah pendaki asal India yang dikenal dengan julukan ‘Green Boots’ kini akan diupayakan untuk dibawa turun dari gunung tertinggi di dunia tersebut.
Jenazah yang diyakini milik Dorje Morup, pendaki berusia 48 tahun yang meninggal dalam badai salju pada Mei 1996, berada di ketinggian sekitar 8.500 meter selama hampir 30 tahun. Identitasnya baru kembali mengemuka setelah pihak berwenang menduga bahwa sosok yang selama ini dikenal sebagai ‘Green Boots’ bukanlah Tsewang Paljor, melainkan Morup.
Dilansir dari Independent, Senin (10/8/2026), Kepolisian Perbatasan Indo-Tibet pada Juni kembali mengajukan permohonan kepada badan spesialis pemulihan di ketinggian untuk mengevakuasi jenazah tersebut dari sisi Tibet Gunung Everest.
Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan identitas jenazah melalui pengujian DNA. Jika terbukti sebagai Dorje Morup, jenazahnya akan dikembalikan kepada keluarga di India.
Istri Morup, Konchak Yangskit, mengatakan kepada BBC bahwa dirinya bersama keluarga selama ini tidak pernah kehilangan harapan bahwa sang suami suatu hari dapat kembali ke rumah.
Morup merupakan bagian dari ekspedisi enam pendaki India yang menghadapi badai mematikan di dekat puncak Everest pada 1996. Mereka tengah berupaya menjadi tim India pertama yang berhasil mencapai puncak dari sisi Tiongkok yang dikenal memiliki jalur lebih menantang.
Selama bertahun-tahun, jenazah yang dijuluki ‘Green Boots’ diyakini merupakan Tsewang Paljor, pendaki lain yang meninggal dalam ekspedisi tersebut. Julukan itu muncul karena jenazah tersebut mengenakan sepatu pendakian berwarna hijau yang khas.
Namun, kesaksian para penyintas serta informasi mengenai lokasi kontak radio terakhir para pendaki membuat pihak berwenang kini meyakini jenazah tersebut kemungkinan besar adalah Morup.
Putra Morup, Punchok Dorjai, mengatakan keluarga berharap jenazah ayahnya dapat dibawa pulang dan dimakamkan secara layak. Keluarga berencana menggelar upacara pemakaman di Leh, ibu kota Ladakh, apabila hasil identifikasi DNA memastikan jenazah tersebut merupakan Morup.
Proses evakuasi tidak akan mudah. Jenazah ‘Green Boots’ berada di kawasan yang dikenal sebagai zona kematian, yakni wilayah Everest dengan ketinggian lebih dari 8.000 meter.
Di wilayah tersebut, kondisi lingkungan sangat ekstrem. Suhu dapat turun hingga sekitar minus 40 derajat Celsius, sementara tekanan udara yang rendah membuat tubuh manusia kesulitan mendapatkan oksigen dalam jumlah yang cukup.
Lokasi jenazah di sisi Everest wilayah Tiongkok juga menjadi tantangan tersendiri. Medan yang lebih curam dan minimnya dukungan di jalur tersebut membuat proses pencarian serta evakuasi membutuhkan tim dengan keahlian khusus.
Jika berhasil diturunkan dan teridentifikasi melalui tes DNA, pemulangan jenazah Morup akan mengakhiri penantian panjang keluarganya selama hampir tiga dekade.
Bagi keluarga, kepulangan tersebut bukan sekadar proses evakuasi dari salah satu gunung paling ekstrem di dunia, tetapi juga kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang selama puluhan tahun masih menjadi bagian dari penantian mereka.
Sumber : Bisnis
Baca juga : 10 Wisata Ekstrim di Dunia, Mau Kesana?







Comments