STARJOGJA.COM, Info – Sutradara Yosep Anggi Noen menyebut para pemeran film Laut Bercerita sengaja dibuat tampil menyerupai mahasiswa era 1990-an sesuai latar ceritanya. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 29 Oktober 2026.
“Sebenarnya pada prinsipnya saya tuh pengin men-set-up sebuah visualisasi mahasiswa-mahasiswa zaman dulu yang mukanya tua-tua. Jadi memang aku pilihnya yang memang bahkan aktor-aktor yang muda kayak Dewa (Dewa Dayana) pun kan mukanya tua itu sebenarnya,” kata Anggi saat ditemui di studio foto Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, Senin (26/10/2026).
Penampilan para pemeran menjadi salah satu pertimbangan untuk membedakan visual mahasiswa dalam cerita fiksi sejarah ini dari mahasiswa masa kini. Menurut Anggi, foto-foto mahasiswa zaman dulu pun kerap memperlihatkan wajah yang tampak lebih tua dibanding mahasiswa sekarang.
“Bukan [masalah umur], memang wajahnya tua kan. Kayak kita kalau lihat foto-foto zaman lawas itu, misalnya bapak-ibu kalian waktu kuliah itu kan yang nonton [melihat], ‘Lho, kuliah tuh kok kayak dosen?’ gitu kan. Jadi memang kita men-set-up itu,” ujar Anggi.
Pendekatan itu tidak hanya berlaku bagi pemeran utama, tetapi juga bagi pemeran latar. Anggi menyeleksi figuran (extras) berdasarkan kecocokan penampilan dengan gambaran mahasiswa dalam latar cerita.
“Bahkan enggak cuma aktornya aja, aktor semuanya. Extras, extras itu yang mukanya tua-tua, ah, ini cocok jadi mahasiswa. Ada extras yang sudah punya anak gitu loh, teleponan sama istrinya buat [tanya] anak, gitu loh. ‘Punya anak, Mbak?’ gitu. ‘Iya’. Jadi memang sudah ibu-ibu, terus jadi extras dari mahasiswa di situ,” kata Anggi.
Ia memperkirakan jumlah figuran dalam adegan tersebut berkisar 400 hingga 500 orang. Angka itu menggambarkan skala adegan mahasiswa dalam film ini.
“Banyak banget, 400-500 kali ada (jumlahnya),” ujarnya.
Selain kesesuaian penampilan, Anggi memilih aktor berdasarkan pemahaman akting dan sikap yang membantu pendalaman karakter mahasiswa revolusioner. Hal itu memudahkan pengarahan untuk menggambarkan tokoh-tokoh dalam pergerakan mahasiswa.
“Mereka semua harus yang bisa akting, punya standpoint di Indonesia. Lebih mudah mengarahkannya, karena mereka juga sudah punya ‘perbekalan’ untuk menjadi aktor-aktor revolusioner di zaman yang mereka pegang,” tutur Anggi.







Comments