STARJOGJA.COM,INFO.Suara keras dari fenomena sound horeg yang kerap meramaikan jalanan dan lingkungan permukiman ternyata tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan tubuh.
Dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan, dan Bedah Kepala Leher (THT-KL), Dr. dr. Fikri Mirza Putranto, Sp.THT-KL, Sub.NO(K), menjelaskan bahwa tingkat kebisingan yang dihasilkan sound horeg dapat memicu respons stres pada tubuh.
“Akibatnya, denyut jantung dan tekanan darah bisa meningkat ketika seseorang terpapar suara dengan intensitas sangat tinggi,” Jelasnya.
Menurut Fikri, suara dari sound horeg termasuk kategori suara ekstrem keras karena dapat mencapai lebih dari 110 desibel (dB) pada jarak satu meter dari pengeras suara. Sebagai perbandingan, angka tersebut sudah melampaui ambang yang dapat menimbulkan rasa nyeri pada telinga.
Meski demikian, banyak orang merasa menikmati sensasi yang ditimbulkan. Bunyi dan getaran kuat dari perangkat audio tersebut dapat memunculkan rasa nyaman sesaat serta dorongan untuk bergerak atau bergoyang mengikuti irama musik. Namun, sensasi ini bersifat sementara dan dapat membuat seseorang ingin merasakan pengalaman serupa berulang kali.
“Bagi keluarga yang memiliki anak-anak, balita, maupun anggota keluarga lanjut usia, paparan suara berintensitas tinggi perlu menjadi perhatian. Selain memengaruhi pendengaran, kombinasi frekuensi rendah dan volume yang sangat keras juga dapat merangsang sistem keseimbangan tubuh,” lanjutnya.
Fenomena sound horeg sendiri biasanya berupa iring-iringan kendaraan pikap atau truk yang membawa perangkat pengeras suara berukuran besar sambil memutar musik dengan volume tinggi saat berkeliling kampung atau jalan raya.
Fikri menjelaskan bahwa suara bass berfrekuensi rendah yang dihasilkan perangkat tersebut mampu menciptakan getaran kuat dan perpindahan udara yang membuat benda-benda di sekitar ikut bergetar. Efek inilah yang sering dirasakan masyarakat ketika sound horeg melintas di dekat rumah atau area publik.
Karena itu, orang tua disarankan untuk membatasi paparan anak terhadap lingkungan dengan tingkat kebisingan ekstrem serta segera menjauh jika suara terasa terlalu keras atau menimbulkan ketidaknyamanan pada telinga.
“Menjaga kesehatan pendengaran sejak dini menjadi langkah penting untuk melindungi kualitas hidup keluarga dalam jangka panjang,” tutupnya.
Baca juga : Tingkat Stres Bisa dianalisis Lewat Kotoran Telinga







Comments