STARJOGJA.COM, Info – Kemenyan Indonesia masih banyak diekspor dalam bentuk getah mentah meski memiliki potensi diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah. Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM Prof. Dr. Ganis Lukmandaru, S.Hut., M.Agr. mendorong hilirisasi agar nilai ekonomi kemenyan dapat meningkat.
“Keunggulannya di Indonesia ini bau madunya. Baunya itu agak kayak permen gitu. Itu keunggulannya,” ujar Ganis, Senin (14/9/2026).
Kemenyan Indonesia berasal dari genus Styrax dan banyak dihasilkan di Sumatera Utara. Data BPS 2024 mencatat produksi kemenyan di wilayah tersebut mencapai sekitar 5.000 hingga 8.000 ton, dengan sebagian besar diekspor ke sejumlah negara untuk diolah.
“Getah padat ini dipanaskan. Jadi, kalau dipanaskan, ada yang menguap, ada yang tertinggal. Yang menguap ini didinginkan jadi minyak. Ini namanya minyak kemenyan,” jelas Ganis.
Menurut Ganis, pengolahan getah menjadi minyak dapat meningkatkan nilai hingga 20 kali lipat dibandingkan bahan mentah. Pengembangan selanjutnya dapat diarahkan menjadi parfum hingga pemisahan senyawa tunggal.
“Menjadi minyak ini sudah dipisah antara yang mudah menguap dan yang tidak. Menjadi parfum itu sudah produk lagi. Apalagi dipisah sampai level senyawa tunggal, itu lebih mahal lagi. Visinya ke sana,” tuturnya.
Namun, hilirisasi menghadapi tantangan berupa kualitas dan kesinambungan bahan baku. Regenerasi penyadap, potensi konversi lahan, serta rantai perdagangan tradisional juga perlu dibenahi.
“Kalau nilai tambahnya tinggi, dengan jumlah produk yang sama, pendapatan yang diperoleh bisa lebih besar. Jadi, harapannya, petani tidak perlu memanen dalam jumlah banyak untuk mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi. Kalau nilai tambahnya rendah, mereka harus memanen lebih banyak untuk memperoleh pendapatan yang cukup. Sebaliknya, kalau nilai tambahnya tinggi, dengan pendapatan yang lebih besar, mereka cukup memanen lebih sedikit. Ini kan lebih melindungi,” papar Ganis.
Ganis menilai hilirisasi tidak harus dimulai dari pabrik besar. Pengolahan sederhana seperti distilasi getah menjadi minyak dapat dilakukan di tingkat petani untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus menjaga manfaat ekonomi tetap berada di daerah penghasil.
“Dulu kan nggak ada derivat pinus. Setelah itu, tahun 2015-an di Pemalang baru dibangun derivatnya. Jadi, nilainya lebih tinggi. Ya, sudah ada buktinya itu. Harusnya kemenyan juga bisa seperti pinus itu,” katanya.
Ia menekankan hilirisasi harus berjalan bersama dengan keberlanjutan sumber daya. Pengembangan industri perlu menjaga areal kemenyan dari konversi lahan sekaligus memastikan pasokan bahan baku tetap tersedia.
“Asal memang keberlanjutannya itu diperhatikan. Selalu ada hulu dan hilir,” ujarnya.
Sumber : Humas UGM
Baca juga : Wangi Minyak Kemenyan Menarik Para Investor







Comments