STARJOGJA.COM, Info — Anak yang memiliki gangguan belajar spesifik seperti disleksia perlu mendapat pendampingan saat mengikuti proses belajar, termasuk di lingkungan sekolah. Dokter spesialis anak subspesialis tumbuh kembang pediatri sosial konsultan dr. Farid Agung Rahmadi menilai guru perlu mampu mengenali pola kesulitan belajar agar intervensi dapat dilakukan sejak awal.
Intervensi dapat diberikan secara bertahap, mulai dari pembelajaran di kelas, kelompok kecil, hingga pendampingan individual. Jika kesulitan belajar tidak menunjukkan perbaikan berarti, guru perlu berkomunikasi dengan orang tua untuk dilanjutkan dengan asesmen oleh tenaga profesional.
“Faktor kepercayaan diri itu sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Kalau lingkungan sekolah dan rumah memberikan dukungan yang tepat, tentu hasilnya akan lebih baik,” ujar Farid dalam diskusi di Jakarta, Rabu (16/9/2026).
Farid yang merupakan anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan sekolah juga dapat memberikan akomodasi pembelajaran sesuai kebutuhan anak. Bentuknya antara lain memberikan waktu tambahan saat ujian, membacakan teks panjang, memperbolehkan anak menjawab secara lisan, menggunakan ukuran huruf lebih besar, serta menempatkan anak di area dengan lebih sedikit gangguan.
Dalam kondisi tertentu, sekolah dapat mempertimbangkan keberadaan guru pendamping untuk membantu anak berkebutuhan khusus mengikuti pembelajaran. Penguatan kapasitas tenaga pendidik juga diperlukan agar dukungan yang diberikan sesuai kebutuhan sekaligus membantu anak mempertahankan kepercayaan dirinya.
Orang tua dan guru dapat mulai mengenali tanda disleksia ketika anak belajar membaca, terutama jika kesulitan mengenali huruf dan bunyinya terjadi secara konsisten. Kesulitan tersebut umumnya terlihat pada kemampuan membedakan huruf, mengidentifikasi bunyi, hingga mengeja.
“Ketika kelas 1 sampai 3, itu anak mengalami kesulitan belajar membedakan atau mengidentifikasi huruf ini bunyinya bagaimana. Ketika ditambah dengan huruf vokal, maka juga sulit untuk mengeja,” kata Farid.
Salah satu cara melihat tanda disleksia adalah membandingkan kemampuan anak dalam mengerjakan tes secara lisan dan tertulis. Anak dengan disleksia dapat menunjukkan pemahaman yang lebih baik ketika soal dibacakan dibandingkan saat harus membaca soal sendiri.
“Ketika soalnya dibacakan, anak jauh lebih baik hasilnya daripada tes yang tertulis,” kata Farid.
Sumber : Antara







Comments