Lifestyle

Menyusuri Desa Wisata Sasak Ende, dari Riuh Gendang hingga Ketangkasan Pepadu

0
Wisata Sasak Ende
Pertunjukan Peresean di Desa Wisata Sasak Ende menyambut wisatawan, Rabu (9/9/2026). (Nina A)
STARJOGJA.COM,  LOMBOK TENGAH – Dentum gendang berukuran besar terdengar dari sebuah tanah lapang di tengah Desa Wisata Sasak Ende, Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
Alat musik tradisional itu dimainkan oleh dua warga adat Sasak Ende. Masing-masing membawa gendang dengan digantungkan menggunakan kain ke badan mereka. Irama terdengar semakin ramai seolah menggelorakan semangat.
Gendang Beleq, perpaduan seni musik dan tarian tradisional itu menyambut rombongan wartawan dari Daerah Istimewa Yogyakarta, yang berkunjung ke Desa Wisata Sasak Ende, Rabu (9/9/2026). Rombongan ini merupakan peserta kegiatan Capacity Building Wartawan DIY yang diselenggarakan Perwakilan Kantor Bank Indonesia Yogyakarta.
Gendang berukuran besar dimainkan dengan ritme yang khas. Kesenian tersebut menjadi salah satu kekayaan budaya yang masih dipertahankan masyarakat Sasak Ende.
Pemandu wisata Desa Wisata Sasak Ende, Abdurahim menjelaskan Gendang Beleq memiliki peran penting dalam prosesi pernikahan adat Sasak. Kesenian tersebut biasanya menjadi bagian akhir dari rangkaian prosesi pernikahan. Kedua mempelai diarak menuju kediaman pihak perempuan dengan diiringi Gendang Beleq.
“Gendang Beleq merupakan bagian ending dari prosesi adat pernikahan orang Sasak yang diarak dua sejoli ini menuju rumah sang gadis,” katanya.
Selesai penampilan tersebut, pengunjung masih disuguhi lagi dengan pertunjukan yang lebih seru. Dua orang pepadu mulai memainkan Peresean. Dua orang berpakaian adat berhadapan, membawa rotan, masing-masing membawa rotan dan perisai. Rotan diayunkan ke arah lawan. Perisai diangkat untuk menahan pukulan.
Namun, Abdurahim menjelaskan ada aturan dalam permainan tradisional tersebut. Tidak semua pukulan yang mengenai tubuh otomatis menentukan kemenangan. Pukulan yang mengenai badan, pundak atau perut, misalnya, tidak serta-merta menghasilkan poin.
Penentuan kemenangan berkaitan dengan pukulan yang dianggap fatal, terutama apabila mengenai bagian kepala. “Akan tetapi fatalnya kalau misalkan kena di kepala kemudian bocor, itu kategorinya KO,” ujarnya.
Peresean pada dasarnya melibatkan tiga orang. Dua orang menjadi pepadu, sementara satu orang bertugas sebagai wasit.
Di tengah pertunjukan, kami juga melihat bagaimana tradisi tersebut tidak semata-mata mempertontonkan kekuatan fisik. Ada aturan, pengendalian diri dan sportivitas yang harus dijaga. Apalagi, pertunjukan yang disajikan kepada wisatawan memang dibuat sebagai demonstrasi budaya.
Dalam rangkaian kunjungan ke Desa Sasak Ende sore itu, kami juga diajak menyusuri kampung. Sebelumnya, pada saat masuk ke gerbang masuk desa, kami disambut perkampungan tradisional dan kearifan lokal warganya yang tetap dijaga.
Rumah-rumah tradisional Desa Sasak Ende berupa dinding anyaman bambu dan atap alang-alang. Atap rumah dibuat menjulang dengan penutup berbahan alang-alang, membentuk limasan dengan kemiringan yang curam. Lapisan alang-alang yang disusun rapat bukan sekadar elemen estetika, tetapi menjadi bagian penting dari konstruksi rumah tradisional masyarakat Sasak.
Atap bagian depan seperti menjuntai hingga sangat rendah. Menurut Abdurahim, atap rendah merupakan bagian dari filosofi rumah tradisional Sasak. Tamu yang hendak masuk rumah harus menunduk. Ini merupakan simbol penghormatan kepada pemilik rumah.
Keunikan utama rumah tradisional Desa Sasak Ende adalah memiliki lantai tanah liat yang secara rutin dilapisi campuran lumpur dan kotoran lembu. Bagi masyarakat Sasak, tradisi tersebut bukan sekadar cara merawat lantai. Ada filosofi tentang kerja keras dan kedekatan manusia dengan alam. Lembu dan kerbau merupakan bagian penting dari kehidupan petani karena membantu mengolah sawah.
Proses pengolesan lantai biasanya dilakukan kaum perempuan sekitar dua kali dalam sepekan. “Rumah ini mengajarkan kita untuk selalu rendah hati, bekerja keras, dan menghormati sesama. Lantai dari kotoran lembu adalah simbol kerja keras petani, sementara pintu rendah adalah simbol penghormatan,” tuturnya.
Sasak Ende bukan kampung yang dibangun semata-mata sebagai objek wisata. Rumah-rumah yang kami lewati masih dihuni masyarakat. Aktivitas warga berjalan sebagaimana kehidupan sehari-hari. Desa tersebut dihuni sekitar 175 warga yang terdiri atas 30 kepala keluarga.
“Kampung ini bukan sekadar sebagai tempat destinasi, tapi merupakan tempat tinggal. Jadi masing-masing rumah itu ada penghuninya di situ,” kata Alma.
Desa ini hanya berjarak sekitar 20 menit dari Sirkuit Internasional Mandalika. Di satu tempat, wisatawan dapat menemukan lintasan balap internasional dan wajah pariwisata Lombok yang modern. Sementara di Sasak Ende, waktu seperti berjalan dengan cara yang berbeda.
Dentum Gendang Beleq masih terdengar. Peresean masih dimainkan. Alat tenun masih bergerak. Bale Tani masih dihuni. Modernisasi tidak serta-merta menghapus tradisi.
Bayu

Dikukuhkan Jadi Ketum PB ESI, Herindra Bidik Prestasi Esports Lebih Tinggi

Previous article

Konser Kotak di Kota Tua Dihentikan, UPK Ungkap Kronologinya

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Lifestyle