Lifestyle

Trilogi Film Soroti Pertanian Regeneratif untuk Pulihkan Tanah dan Ketahanan Pangan

0
Film regenerasi
Film regenerasi kiss the ground (kisstheground)

STARJOGJA.COM, Info – Berbagai upaya perlu dilakukan untuk mengampanyekan pentingnya kesehatan tanah sebagai bagian dari pemulihan ekosistem, stabilisasi iklim, dan penguatan ketahanan pangan.  Tiga film dokumenter yang dinilai relevan dengan isu regenerasi lahan yakni Kiss the Ground (2020), Common Ground (2023), dan Groundswell (2026).

Ketiganya diperkenalkan sebagai trilogi yang mengangkat pentingnya kesehatan tanah untuk memulihkan ekosistem, menstabilkan iklim, dan memperkuat ketahanan pangan. Chairperson of Advisory Board Social Investment Indonesia, Jalal, mengatakan trilogi tersebut relevan dengan kondisi pada 2026 yang ditandai dengan El Niño ekstrem, kekeringan, lahan kritis, hingga penurunan produksi beras.

Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan upaya restorasi hingga regenerasi tanah agar kualitas lahan dapat kembali membaik.

“Kiss the Ground memperkenalkan konsep pertanian regeneratif dan mendapat respons besar, termasuk lebih dari 45 penghargaan serta pengaruh terhadap kebijakan Pemerintah Amerika Serikat yang kemudian mengalokasikan dana besar untuk pertanian regeneratif, meski film ini juga dikritik karena dianggap terlalu keras mengkritik pertanian konvensional,” terang Jalal dalam webinar bertajuk ‘Regenerasi Lahan untuk Ketahanan Ekosistem, Pangan dan Komunitas’, Jumat (14/8/2026).

Jalal menjelaskan Common Ground kemudian memperluas pembahasan dari persoalan kesehatan tanah menuju sistem pangan. Film tersebut menampilkan keluarga petani yang beralih dari pertanian industrial menuju praktik regeneratif serta mengkritisi pengaruh industri terhadap pendidikan pertanian.

Menurutnya, ketiga film tersebut menunjukkan perkembangan gagasan mengenai pertanian regeneratif. Pembahasannya dimulai dari tanah sebagai solusi tersembunyi, kemudian berkembang pada penguatan sistem pangan, hingga keyakinan bahwa pertanian regeneratif dapat membantu mengatasi krisis pangan dan iklim.

Upaya tersebut dilakukan melalui pemulihan tanah, peningkatan keanekaragaman hayati, rehidrasi ekosistem, serta penyerapan karbon.

Meski memiliki kekuatan dari sisi ilmiah, kemanusiaan, dan sinematografi serta mendapat berbagai penghargaan dan perhatian publik, Jalal menilai trilogi tersebut masih memiliki sejumlah kekurangan.

Salah satunya adalah belum cukup membahas tantangan dan biaya transisi yang harus dihadapi petani kecil. Menurutnya, penerapan pertanian regeneratif berpotensi membuat produksi dan pendapatan petani menurun pada beberapa musim awal.

Dalam konteks Indonesia, Jalal menilai urgensi penerapan pertanian regeneratif semakin besar. Ia menyebut 66,5 persen lahan pertanian telah mengalami kerusakan dan produksi padi mengalami penurunan.

Di sisi lain, sejumlah proyek restoratif dan regeneratif yang melibatkan sekitar 15.000 petani mulai berjalan melalui kerja sama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Indonesia.

Jalal juga mendorong lahirnya dokumenter pertanian regeneratif Indonesia yang mengangkat pengalaman petani kecil dari berbagai komoditas, seperti sawit, kopi, kakao, dan padi.

Menurutnya, film tersebut dapat menghubungkan perkembangan sains global dengan berbagai aspek di Indonesia, termasuk kelembagaan adat, koperasi, pembiayaan iklim, kepemilikan lahan, serta kolaborasi lintas sektor.

Ia mengajak masyarakat tidak hanya menjadikan trilogi film tersebut sebagai tontonan, tetapi juga mempelajari riset dan praktik pertanian regeneratif secara lebih serius.

Penerapan pertanian regeneratif dalam skala besar di Indonesia dinilai dapat menjadi salah satu upaya untuk membantu memulihkan kondisi lingkungan.

“Kalau kita mau membantuin kita selamat, kalau kita mau membantu bumi menyembuhkan diri, maka pertanian regeneratif adalah satu-satunya cara yang bisa kita pergunakan untuk sampai ke tujuan tersebut,” pungkasnya.

 

Sumber : Bisnis

Baca juga : Pemain Film Seni Merayu Tuhan Bicara tentang Menjadi Pribadi Baik 

Bayu

Produksi Rimba Raya  Gunakan AI, Tim Ungkap Tantangan Bikin Hutan Indonesia

Previous article

Sambut Bulan Kemerdekaan, Top Malioboro Hotel Hadirkan Promo Merdeka Flash

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Lifestyle