STARJOGJA.COM, Info – Film animasi karya anak bangsa Garuda di Dadaku hadir membawa pesan tentang semangat pantang menyerah, kerja sama, dan keberanian mengejar mimpi melalui kisah seorang anak yang bercita-cita menjadi pesepak bola terbaik Indonesia.
Cerita berpusat pada Putra, yang diperankan Keanu Azka, seorang anak laki-laki yang memiliki mimpi besar menjadi pemain sepak bola hebat. Namun, Putra harus menghadapi berbagai keterbatasan fisik yang membuatnya diragukan mampu menjadi seorang juara.
Saat berada di titik terendah akibat kegagalan yang dialaminya, Putra bertemu dengan sosok yang membantunya menemukan cara untuk menghadapi tantangan terbesar dalam hidupnya. Perjalanannya juga didukung oleh teman-temannya serta Naya, yang diperankan Quinn Salman, yang perlahan mulai percaya bahwa mereka mampu meraih kemenangan bersama.
Dalam proses tersebut, Putra belajar bahwa mimpi besar tidak bisa diraih sendirian. Dukungan orang-orang di sekitarnya menjadi kekuatan yang membantunya bangkit dan terus berjuang.
Namun perjalanan Putra tidak selalu berjalan mulus. Perselisihan dengan teman-temannya dan rasa percaya diri yang berlebihan justru membuatnya terjatuh dalam kekecewaan. Dari pengalaman itu, ia belajar tentang arti kerja sama, kerendahan hati, dan pentingnya mempercayai orang lain.
Film ini tidak hanya menceritakan perjalanan seorang anak mengejar cita-cita, tetapi juga menunjukkan bahwa keberanian untuk berkembang sering kali lahir dari kepercayaan yang diberikan oleh orang-orang di sekitar kita.
Dikerjakan 500 Animator Indonesia
Film animasi Garuda di Dadaku disutradarai oleh Ronny Gani, animator Indonesia yang pernah terlibat dalam pengerjaan visual efek berbagai film Hollywood, termasuk film-film Marvel Cinematic Universe dan Transformers: Age of Extinction.
Film ini merupakan hasil kolaborasi Springboard, Dasun Pictures, AHHA Corp, Robot Playground Media, dan PK Films. Karya tersebut mengadaptasi kembali kisah Garuda di Dadaku yang sebelumnya sukses melalui film layar lebar pada 2009 dan 2011, serta serial televisi yang tayang pada 2014 dan 2015.
Produksi film animasi ini melibatkan sekitar 500 animator Indonesia dari berbagai daerah, mulai dari Batam, Yogyakarta, Malang, Bali, Bogor, hingga Jakarta. Proses pengerjaan memakan waktu sekitar tiga tahun dan diklaim tidak menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI), sehingga seluruh visual yang dihasilkan merupakan karya orisinal para animator lokal.
Keunikan film ini terlihat dari desain karakter yang tampil lebih komikal dengan sentuhan visual yang memadukan nuansa dua dimensi dan tiga dimensi secara menarik.
Selain itu, unsur fantasi yang lebih kuat dibandingkan versi live-action membuat petualangan Putra terasa lebih luas dan spektakuler. Pendekatan animasi memungkinkan eksplorasi cerita yang sebelumnya sulit diwujudkan dalam format film biasa.
Tembus Festival Film Internasional
Produser film, Shanty Harmayn, mengatakan format animasi membawa Garuda di Dadaku memasuki panggung internasional. Film ini terpilih mengikuti kompetisi dalam kategori film animasi di Shanghai International Film Festival (SIFF) 2026.
Selain itu, film tersebut juga telah menarik perhatian pasar internasional dan direncanakan tayang di Malaysia.
Kehadiran film ini dinilai menjadi bukti bahwa kekayaan intelektual (KI) lokal Indonesia memiliki potensi besar untuk menjangkau generasi baru sekaligus menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Film ini juga menghadirkan kembali lagu ikonis Garuda di Dadaku yang dinyanyikan ulang oleh Isyana Sarasvati dengan aransemen yang lebih megah dan tetap membangkitkan semangat nasionalisme.
Dukungan terhadap film ini juga datang dari pemerintah, termasuk Kementerian Ekonomi Kreatif, yang menilai karya tersebut sejalan dengan upaya memperkuat daya saing industri kreatif nasional.
Menariknya, penayangan perdana film animasi Garuda di Dadaku pada 12 Juni 2026 bertepatan dengan momentum penyelenggaraan Piala Dunia 2026, sehingga semakin memperkuat nuansa sepak bola yang menjadi tema utama film tersebut.
Sumber : Antara







Comments