Lifestyle

Psikolog UI Ingatkan Candaan Tak Nyaman Bisa Jadi Tanda Pelecehan Seksual

0
Pendidikan seks tanda pelecehan seksual candaan tidak nyaman
Ilustrasi pelecehan seksual (ist)

STARJOGJA.COM, Info – Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Phoebe Ramadina, mengingatkan bahwa candaan yang menimbulkan rasa tidak nyaman perlu diwaspadai sebagai indikasi pelecehan seksual. Hal ini berlaku baik dalam interaksi langsung maupun di media sosial.

Menurutnya, indikator utama pelecehan seksual tidak selalu terlihat secara kasat mata, tetapi dapat dirasakan dari respons emosional korban. Rasa tidak nyaman menjadi sinyal penting yang tidak boleh diabaikan dalam berbagai situasi sosial.

“Indikator paling penting untuk diingat dan perlu diwaspadai sebagai pelecehan seksual adalah rasa tidak nyaman yang dirasakan korban, meskipun perilaku tersebut belum tampak ‘jelas’ sebagai pelecehan secara kasat mata,” kata Phoebe kepada ANTARA, Kamis (23/4/2026).

Phoebe menjelaskan, pelecehan seksual di media sosial kerap muncul dalam bentuk yang halus dan terselubung. Hal ini membuat tindakan tersebut sering disalahartikan sebagai candaan atau pujian oleh pelaku maupun orang lain.

Ketika korban mulai merasa tidak nyaman, respons pelaku justru sering meremehkan perasaan tersebut. Ungkapan seperti “hanya bercanda” atau “jangan dibawa perasaan” kerap digunakan untuk menormalisasi perilaku yang tidak pantas.

Ia menegaskan bahwa menyampaikan ketidaknyamanan merupakan langkah penting dalam menjaga batasan diri. Meski tidak selalu mudah, hal ini menjadi bagian dari keterampilan asertif dalam berinteraksi sosial.

“Dari sudut pandang korban, hal ini bisa dimulai dengan menyampaikan secara langsung dan spesifik, seperti mengatakan bahwa komentar tersebut membuat tidak nyaman dan meminta agar tidak diulangi. Penyampaian jelas dan tegas seringkali lebih efektif,” katanya.

Phoebe juga menekankan pentingnya mengenali bentuk pelecehan sejak dini agar individu lebih berdaya dalam menghadapi situasi tersebut. Beberapa contohnya meliputi komentar bernuansa seksual, candaan seksual berulang, hingga pesan yang mengarah ke topik intim tanpa persetujuan.

Selain itu, tindakan seperti mengirim konten seksual tanpa diminta atau manipulasi untuk memperoleh foto pribadi juga termasuk dalam kategori pelecehan. Kondisi ini menunjukkan bahwa batasan personal sering dilanggar secara sistematis dalam interaksi digital.

Ia menyarankan agar masyarakat berani menyuarakan ketidaknyamanan dan mengelola privasi di media sosial dengan lebih ketat. Langkah seperti membatasi akses informasi pribadi dan interaksi dari orang tidak dikenal dinilai efektif mengurangi risiko.

Jika seseorang menjadi korban, penting untuk memprioritaskan keamanan diri dan menyimpan bukti interaksi yang terjadi. Menghentikan kontak dengan pelaku serta mencari bantuan dari pihak terpercaya juga menjadi langkah yang dianjurkan.

“Secara psikologis, ketika seseorang memiliki self-awareness yang baik dan merasa berhak atas rasa aman dalam interaksi sosial, ia cenderung lebih peka terhadap tanda-tanda perilaku yang tidak pantas dan lebih mampu mengambil langkah untuk melindungi dirinya,” kata Phoebe.

Sumber : Antara

Baca juga : Film Michael Jackson Akan Angkat Tuduhan Pelecehan Seksual

Bayu

Hammersonic Festival 2026 Jadi Private Event, Tiket Direfund 100 Persen 

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Lifestyle