CulinaryLifestyle

Ahli Gizi Ingatkan Masyarakat Cermat Memilih Kue Kering Lebaran

0
kue lebaran kue kering
Kue nastar kukus selalu ada saat lebaran. - Instagram @ibueok.haura

STARJOGJA.COM, Info – Suguhan kue kering mulai dari nastar, kastengel, hingga putri salju seolah telah menjadi tradisi yang tak terpisahkan saat merayakan Idulfitri di Indonesia. Namun di balik kelezatannya, masyarakat diimbau lebih cermat dalam memilih kue kering yang aman dan berkualitas untuk dikonsumsi keluarga.

Ahli gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Mahmud Aditya Rifqi mengatakan masyarakat perlu memahami penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang umum digunakan dalam industri kue kering.

Menurutnya, penggunaan bahan tambahan seperti pengawet, pemanis, maupun pewarna sebenarnya diperbolehkan selama sesuai dengan jenis dan batas aman yang telah ditetapkan oleh otoritas terkait.

“Penggunaan pengawet, pemanis, atau pewarna sebenarnya diperbolehkan oleh undang-undang dan BPOM asalkan sesuai dengan jenis dan batas aman yang telah ditentukan,” ujarnya.

Meski begitu, masyarakat tetap perlu waspada terhadap kemungkinan penggunaan bahan tambahan yang ilegal atau tidak terdaftar oleh produsen yang tidak bertanggung jawab.

Mahmud menjelaskan, konsumen bisa menilai kualitas kue kering dari tampilan fisiknya sebelum membeli. Warna yang terlalu mencolok atau tidak terlihat alami patut diwaspadai.

“Jika warna kue tampak sangat mencolok atau tidak natural, sebaiknya dihindari,” katanya.

Selain itu, indra penciuman juga bisa menjadi indikator penting. Jika kue mengeluarkan aroma atau rasa tengik saat dicicipi, kemungkinan lemak dalam kue telah teroksidasi dan sebaiknya tidak dikonsumsi.

Ia juga mengingatkan bahwa kualitas kue kering tidak hanya ditentukan oleh bahan bakunya, tetapi juga cara pengemasannya. Konsumen disarankan untuk selalu mengecek tanggal kedaluwarsa maupun keterangan best before yang tertera pada label produk.

“Pastikan kemasan tidak bocor, pecah, atau retak. Adanya izin edar akan memberikan keyakinan lebih bahwa produk tersebut memang masih segar dan layak konsumsi,” jelasnya.

Untuk produk UMKM atau industri rumahan, Mahmud menegaskan bahwa standar keamanan tetap harus diperhatikan. Wadah penyimpanan sebaiknya tersegel rapat sejak dari produsen untuk mencegah kontaminasi dari luar.

Bagi masyarakat yang ingin menjaga kesehatan selama Lebaran, Mahmud menyarankan penerapan prinsip 3J, yakni jenis, jumlah, dan jadwal konsumsi makanan.

Menurutnya, kue kering termasuk makanan selingan sehingga porsinya sebaiknya dibatasi sekitar 10–20 persen dari total kebutuhan kalori harian.

“Jika memiliki waktu luang, membuat kue sendiri dengan bahan rendah kalori adalah opsi terbaik agar komposisi lebih terkontrol,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kue kering dengan isian krim atau lapisan cokelat cenderung lebih cepat rusak. Karena itu, penyimpanan di tempat sejuk atau di dalam lemari es dapat membantu menjaga kualitas kue hingga hari raya berakhir.

Sumber : UNAIR

Baca juga : Awas! Kebanyakan Makan Kue Kering Saat Lebaran, Ini Bahayanya

Bayu

Perempuan di DIY Punya Kesempatan Setara, Namun Representasi Politik Masih Rendah

Previous article

Pakar UGM Soroti Rendahnya Cakupan Jaminan Pensiun di Indonesia

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Culinary