Kota JogjaNews

Shared Responsibility, Hadirkan Kemitraan Ekonomi dan Harmoni Keluarga

0

STARJOGJA.COM, JOGJA – Konsep kemitraan dalam keluarga menjadi fondasi penting untuk menciptakan hubungan rumah tangga yang harmonis dan berkelanjutan. Salah satu pendekatan yang semakin didorong adalah konsep shared responsibility, yakni pembagian tanggung jawab yang setara antara suami dan istri dalam mengelola kehidupan rumah tangga, termasuk dalam aspek ekonomi.

Kepala Bidang Kualitas Hidup Perempuan DP3AP2 DIY, Rofiqoh Widiastuti, S.Sos., M.P.H, menjelaskan bahwa pernikahan idealnya dibangun atas dasar tanggung jawab bersama. Dalam konsep ini, urusan rumah tangga tidak dibebankan hanya pada satu pihak, melainkan dibagi secara adil antara pasangan.

“Konsep pernikahan berbasis shared responsibility menekankan bahwa urusan rumah tangga harus berbagi. Tanggung jawab rumah tangga itu harus terbagi. Ketika rumah tangga didirikan dalam kerangka yang sama kuat, maka kehidupan keluarga juga akan menjadi lebih baik,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa relasi dalam keluarga tidak boleh didominasi oleh salah satu pihak. Pembagian peran dalam keluarga tidak semata-mata ditentukan oleh besaran pendapatan yang dihasilkan masing-masing anggota keluarga.

Menurutnya, besar maupun kecilnya pendapatan tetap merupakan sumber daya yang ditujukan untuk kesejahteraan keluarga secara bersama. Karena itu, yang terpenting bukan siapa yang menghasilkan lebih banyak, melainkan bagaimana tanggung jawab tersebut dijalankan secara kolektif.

Rofiqoh juga menekankan bahwa relasi ekonomi dalam rumah tangga bukanlah sesuatu yang bersifat formal atau memiliki satu pola baku. Setiap keluarga memiliki cara dan kesepakatannya sendiri dalam mengelola ekonomi keluarga.

“Kunci dari kemitraan dalam keluarga adalah saling memahami dan saling mendukung. Dengan begitu relasi dalam keluarga bisa tetap terjaga,” jelasnya.

Sementara itu, Rajif Dri Angga, M.A, Direktur Eksekutif IRE, menilai bahwa peningkatan kesejahteraan keluarga juga dapat memunculkan tantangan baru jika tidak diiringi dengan relasi yang setara dalam pengelolaan sumber daya rumah tangga.

Menurutnya, ketika karier berkembang dan kondisi ekonomi keluarga meningkat, sering kali muncul dinamika baru dalam relasi pasangan. Jika pengelolaan sumber daya tidak dilakukan secara adil dan terbuka, kondisi tersebut berpotensi memicu konflik dalam keluarga.

“Ketika kesejahteraan keluarga meningkat seiring peningkatan karier, tanpa relasi yang setara dalam mengelola sumber daya rumah tangga, hal itu bisa menimbulkan masalah,” ujarnya.

Rajif menambahkan bahwa tidak jarang peningkatan kesejahteraan justru memicu pertengkaran dalam rumah tangga jika tidak dikelola dengan baik. Bahkan dalam beberapa kasus, konflik tersebut dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius, seperti perselingkuhan.

Karena itu, membangun keluarga tidak hanya soal menghadapi kesulitan ekonomi, tetapi juga bagaimana pasangan mampu menjaga keseimbangan ketika kondisi ekonomi justru membaik.

“Membangun keluarga itu harus dari dua sisi. Kedua pasangan harus saling memahami kebutuhan masing-masing. Bukan hanya kemiskinan yang bisa mengguncang keluarga, tetapi juga ketika kesejahteraan meningkat,” katanya.

Melalui pemahaman tentang kemitraan ekonomi dan pembagian tanggung jawab yang setara, diharapkan keluarga dapat membangun hubungan yang lebih sehat, saling mendukung, dan mampu menjaga keharmonisan dalam berbagai situasi kehidupan

Alasan Poppy Sovia Tertarik Bintangi Film Tiba-Tiba Setan

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Kota Jogja