STARJOGJA.COM,JOGJA — Literasi keuangan menjadi salah satu kunci penting dalam mendorong kemandirian ekonomi perempuan sekaligus memperluas akses terhadap inklusi ekonomi.
Brian Adi Wijaya, S.Sos, dari Bidang Kualitas Hidup Perempuan DP3AP2 DIY, menyebutkan hingga saat ini perempuan masih menghadapi berbagai tantangan dalam mengakses modal usaha. Salah satunya berasal dari konstruksi sosial di masyarakat yang masih memandang perempuan seharusnya lebih banyak berada di rumah.
Menurut Brian, ketika perempuan ingin memulai atau mengembangkan usaha, persoalan permodalan sering kali menjadi lebih sulit dibandingkan laki-laki. Oleh karena itu, literasi keuangan menjadi bekal penting agar perempuan mampu mengelola sumber daya yang dimiliki secara optimal.
“Literasi keuangan pada perempuan sangat penting. Selain itu, laki-laki juga perlu disadarkan bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk mengakses dan mengelola keuangan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa peningkatan literasi keuangan tidak bisa hanya menyasar perempuan saja. Laki-laki dan perempuan perlu belajar bersama agar tercipta pemahaman yang setara dalam pengelolaan ekonomi keluarga.
Sebagai bentuk komitmen dalam mendorong kemandirian ekonomi perempuan, DP3AP2 DIY memiliki program Desa Prima. Program ini membentuk kelompok perempuan, terutama ibu-ibu yang sudah memiliki embrio usaha, untuk kemudian mendapatkan pendampingan dalam mengembangkan usahanya.
Melalui Desa Prima, para peserta tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi juga kesempatan untuk meningkatkan kapasitas usaha. Pada tahun kedua, peserta program bahkan berpeluang memperoleh dukungan modal usaha guna memperluas dan memperkuat bisnis mereka.
Sementara itu, Rezki Wulan Ramadhanty, S.E., M.Sc., AWP, seorang Consultant, Financial Educator, dan Womanpreneur, menjelaskan bahwa masih banyak kesalahpahaman terkait literasi keuangan di kalangan perempuan.
Menurutnya, banyak orang berpikir bahwa mengatur keuangan hanya bisa dilakukan jika seseorang memiliki uang yang banyak. Padahal, justru kemampuan mengelola keuangan secara bijak menjadi penting, terutama ketika sumber daya terbatas.
“Yang sering terjadi adalah orang merasa tidak perlu belajar mengatur keuangan karena merasa belum punya uang. Padahal, kalau tidak dikelola dengan baik, uang yang ada akan cepat habis tanpa perencanaan,” jelasnya.
Dalam praktiknya, banyak pelaku usaha perempuan masih mencampur antara keuangan pribadi dan keuangan bisnis karena tidak melakukan pencatatan yang baik. Kondisi ini sering kali membuat usaha sulit berkembang.
Selain itu, masih banyak perempuan yang kesulitan menabung dan akhirnya belum siap untuk melangkah ke tahap investasi. Tidak sedikit pula yang terjebak dalam perilaku konsumtif yang menghambat penguatan ekonomi jangka panjang.
Melalui peningkatan literasi keuangan dan dukungan program pemberdayaan seperti Desa Prima, diharapkan semakin banyak perempuan yang mampu mengelola keuangan secara bijak, mengembangkan usaha, dan pada akhirnya membangun masa depan ekonomi yang lebih kuat bagi diri sendiri maupun keluarganya.







Comments