STARJOGJA.COM, JOGJA – Perempuan Rentan Terdampak Perubahan Iklim . Perubahan iklim bukan lagi isu global yang terasa jauh, melainkan realitas yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat, khususnya perempuan. Perempuan muda tampil sebagai motor penggerak aksi lingkungan berkelanjutan, mulai dari edukasi publik hingga inisiatif ekonomi hijau berbasis komunitas.
Suly Kumala Susanto, S. Sos., Penelaah Teknis Kebijakan di Bidang Kualitas Hidup Perempuan DP3AP2 DIY menyebutkan, perubahan iklim memiliki dampak yang berlapis terhadap perempuan.
“Perempuan sering berada di garis depan dalam mengelola sumber daya keluarga. Ketika terjadi kekeringan, gagal panen, atau kenaikan harga bahan pokok akibat perubahan iklim, perempuan yang pertama kali merasakan dan mengelola dampaknya,” ujarnya.
Dari sisi kesehatan, peningkatan suhu dan bencana hidrometeorologi berpotensi meningkatkan risiko penyakit, beban kerja domestik, serta kerentanan kelompok rentan seperti ibu hamil dan anak. Secara ekonomi, ketidakstabilan pendapatan keluarga akibat krisis iklim turut memperbesar beban perempuan sebagai pengelola keuangan rumah tangga.
Ia menyebut Perempuan muda di DIY kini tidak hanya menjadi korban dampak perubahan iklim, tetapi juga agen perubahan. Mereka terlibat dalam Edukasi dan kampanye iklim melalui media sosial, diskusi publik, dan Gerakan pengurangan sampah plastik serta pengelolaan bank sampah berbasis komunitas.
“Perempuan muda memiliki perspektif segar, kemampuan adaptif, serta jejaring digital yang kuat. Ini menjadi modal penting dalam membangun gerakan lingkungan yang progresif,” jelas Suly.
Mida Mardhiyyah, S.I.Kom, Peneliti Independen menyebutkan Komunitas lokal memegang peran penting dalam memperkuat aksi iklim di tingkat akar rumput.
“Pendekatan berbasis komunitas dinilai efektif karena lebih memahami konteks sosial dan kebutuhan warga setempat. Ketika perempuan muda dilibatkan dalam struktur komunitas, dampaknya lebih luas dan berkelanjutan,” tambahnya.
Suly menegaskan Aksi perempuan muda dalam isu iklim berkelanjutan menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil di tingkat lokal. Kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan generasi muda menjadi fondasi penting dalam menghadapi tantangan krisis iklim.
“Perempuan muda bukan hanya bagian dari solusi, tetapi pemimpin masa depan dalam pembangunan berkelanjutan,” pungkas Suly.
Baca juga : Perempuan dan anak Paling beresiko terkena dampak perubahan iklim







Comments