Lifestyle

Film Penerbangan Terakhir Pertanyakan tentang Integritas

0
Film Penerbangan Terakhir penerbangan arab saudi
ilustrasi penerbangan (jibi)

STARJOGJA.COM, Info – Film “Penerbangan Terakhir” karya Benni Setiawan mengkonstruksi ulang pemikiran pendidikan yang tinggi akan berbanding lurus dengan kemapanan dan integritas. Melalui karakter utamanya, Deva Angkasa (Jerome Kurnia), film ini mengajak penonton merenungi sejauh mana seragam dan jabatan mampu menutupi rapuhnya integritas seseorang.

 

Film ini menyoroti sebuah fenomena psikologis yang disebut arrival fallacy. Ini adalah kondisi di mana seseorang meyakini bahwa pencapaian suatu tujuan besar, seperti menjadi kapten pilot di usia muda, akan membawa kepuasan batin yang permanen.

 

Deva Angkasa adalah sosok yang digunakan untuk menggambarkan fenomena ini, di mana ia mencapai jam terbang yang dibutuhkan untuk mencapai pangkat empat baris emas di pundak seragamnya, kapten sebuah maskapai penerbangan.

 

Namun yang terjadi adalah posisi tinggi yang ia capai tidak memberinya sifat baik, karena tekanan untuk terus mempertahankan validasi sosok sempurna di mata publik.

 

Cerita ini menjadi kritik bagi pola asuh dan sistem pendidikan yang sering kali hanya berfokus pada hasil akhir berupa jabatan tinggi, tanpa membekali dengan tanggung jawab moral setinggi ekspektasi sosial yang kelak dapat menyertainya.

 

Deva diperlihatkan sampai di puncak karir selagi usianya masih muda, tapi mengalami gangguan kepribadian narsistik karena fondasi moralnya tidak cukup kuat.

 

Disonansi kognitif

 

Salah satu konflik Deva yang diangkat film ini adalah cognitive dissonance atau ketidakseimbangan batin.

 

Dalam dunia yang serba pamer di media sosial, ada tekanan luar biasa untuk menampilkan gaya hidup yang selaras dengan jabatan.

 

Bagi seorang kapten pilot, standar hidup tertentu dianggap sebagai kewajiban sosial.

 

Ketika realitas finansial tidak mampu menopang citra tersebut, seseorang sering kali terjebak dalam dilema moral.

 

Film ini memperlihatkan bagaimana gengsi bisa menjadi “penjara” yang sangat menyiksa.

 

Kebutuhan untuk tetap terlihat mapan di depan calon mertua atau lingkungan kerja sering kali memaksa individu melakukan kompromi moral yang berbahaya.

 

Di titik itulah, tanggung jawab moral terhadap diri sendiri menjadi harga yang terlalu mahal untuk dibayar, dan manipulasi menjadi jalan pintas yang menggoda.

 

 

 

Otoritas dan manipulasi

 

“Penerbangan Terakhir” membedah dinamika kekuasaan di lingkungan profesional. Dalam psikologi, dikenal istilah authority bias, yakni kecenderungan manusia untuk patuh dan menaruh kepercayaan lebih pada mereka yang memiliki posisi lebih tinggi.

 

Ruang kokpit pesawat, sebuah wilayah yang terisolasi di ketinggian ribuan kaki, menjadi metafora yang kuat tentang kontrol dan dominasi.

 

Sutradara dengan cerdas memperlihatkan bagaimana karisma dan jabatan bisa disalahgunakan sebagai instrumen manipulasi.

 

Melalui teknik komunikasi yang persuasif, seseorang dengan otoritas tinggi bisa dengan mudah meruntuhkan nalar kritis orang-orang di bawahnya.

 

Fenomena love bombing atau pemberian perhatian berlebih yang ditampilkan Deva kepada Tiara (diperankan aktris Nadya Arina) dalam film ini sebenarnya adalah sebuah peringatan bagi penonton agar tetap waspada terhadap niat di balik “kemasan” kesuksesan yang diperlihatkan sempurna.

 

Karakter yang tampak seperti pahlawan dalam mimpi bisa jadi hanyalah seorang oportunis yang memanfaatkan celah kepercayaan.

 

Media Sosial dan internalized misogyny

 

Lapisan menarik lainnya dari film ini adalah peran media sosial yang direpresentasikan melalui karakter Nadia (diperankan Aghniny Haque).

 

Nadia di film ini tidak hanya menampakkan sikap romansa semata, tapi juga tentang bagaimana ia mengonsumsi skandal.

 

Di era digital, opini masyarakat sering kali dipandu oleh tokoh-tokoh berpengaruh yang memiliki agenda tersendiri.

 

Kehadiran fenomena internalized misogyny, di mana sesama perempuan justru saling menjatuhkan atau menyalahkan satu sama lain dalam sebuah konflik, menjadi cerminan pahit dari realitas kita.

 

Media sosial sering kali lebih cepat menghakimi tanpa melihat duduk perkara yang sebenarnya secara utuh.

 

Ini menciptakan lingkungan di mana reputasi seseorang bisa hancur dalam semalam hanya berdasarkan persepsi yang digiring oleh mereka yang memiliki suara paling keras di dunia maya.

 

Secara sosiologis, film ini menunjukkan satu halo effect, yaitu efek bias kognitif di mana kesan positif kita terhadap satu aspek seseorang, misalnya, karir yang sukses atau penampilan yang menawan, membuat kita berasumsi bahwa orang tersebut juga memiliki sifat-sifat baik lainnya.

 

Masyarakat cenderung sulit mempercayai bahwa seseorang dengan pekerjaan yang dianggap “mulia” bisa melakukan tindakan yang tidak etis.

 

Akibatnya, muncul standar ganda dalam pemberian sanksi sosial.

 

Orang dengan kepopuleran tinggi sering kali mendapatkan “privilese untuk melakukan kesalahan”, di mana perbuatannya dianggap sebagai kesalahan kecil.

 

Sementara itu, pihak yang lebih lemah posisinya sering kali harus memikul beban hujatan yang jauh lebih berat.

 

Film “Penerbangan Terakhir” yang diangkat dari cerita fiksi berjudul Gadis Pramugari karya Annastasia Anderson  itu memperlihatkan bagaimana sistem dan struktur sosial sering kali justru melindungi mereka yang memiliki kuasa.

 

Penerbangan Terakhir menampakkan hasil studi psikologis terhadap karakter dengan harga diri tinggi.

 

Pesan moralnya adalah integritas adalah satu-satunya hal yang bisa menjaga seseorang agar tidak benar-benar “jatuh” saat menghadapi badai kehidupan.

 

Kesuksesan yang hanya dibangun di atas tumpukan utang dan kebohongan hanyalah sebuah fatamorgana yang melelahkan.

 

Lewat film ini, penonton diajak untuk tidak gampang takjub melihat kesuksesan orang lain. Karena pada akhirnya, keberanian untuk bertanggung jawab atas perbuatan sendiri jauh lebih bernilai bagi kita daripada seragam dengan garis-garis emas di pundak.

 

Keberhasilan sejati bukanlah tentang seberapa tinggi kita bisa terbang tinggi, melainkan tentang seberapa tegak kita bisa berdiri dengan nurani yang bersih, meski di daratan.

 

 

 

Sumber : Antara

 

Baca juga : Film Penerbangan Terakhir Hadir Tonjolkan Love Bombing

Bayu

Melihat Fenomena Tarot di Kalangan Gen Z dari Sudut Psikologi

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Lifestyle