Lifestyle

Pentingnya Memahami Relasi Khusus Celah Child Grooming

0
Child Grooming
ilustrasi stopkekerasan ke anak dan Child Grooming (antara)

STARJOGJA.COM, Info – Beberapa waktu terakhir Child Grooming atau membangun hubungan emosional, kepercayaan, atau kedekatan dengan seorang anak atau remaja sering menjadi perbincangan di media sosial. Psikolog Klinis Anak dan Remaja Gisella Tani Pratiwi mengatakan perlu mewaspadai relasi khusus yang dibangun orang yang usianya lebih tua dengan anak yang dapat menjadi celah child grooming.

 

“Child grooming itu proses yang mana pelaku membangun relasi khusus dengan anak dan kadang dengan keluarga besarnya, untuk mendapatkan kepercayaan dan membentuk relasi kuasa atau otoritas atas anak, dalam persiapan melakukan tindakan kekerasan (abusive),” kata Gisella kepada ANTARA di Jakarta, Rabu (14/1/2026).

 

Psikolog lulusan Universitas Indonesia itu menjelaskan proses child grooming biasanya diawali dengan upaya pelaku menjalin hubungan khusus dengan anak untuk menumbuhkan rasa percaya, seperti memberi hadiah, menggunakan identitas palsu, hingga perhatian di luar proporsi wajar.

 

Kemudian, proses child grooming ditandai dengan eksploitasi kepercayaan yang sudah terbentuk. Dalam hal ini, pelaku mulai mengeksploitasi relasi percaya dengan mengisolasi korban dari lingkungan atau dukungan sosialnya seperti dari teman dekat dan keluarga.

 

“Relasi ini dilakukan dengan pola-pola ancaman, memeras materi atau immateril, manipulasi, dan eksploitasi relasi kuasa. Jika relasi ini telah terbentuk maka pelaku bisa melakukan tindakan penganiayaan yang telah direncanakan seperti kekerasan seksual, atau eksploitasi dengan tujuan lainnya,” tutur dia.

 

Gisella juga menyampaikan bahwa tanda-tanda child grooming pada anak dan remaja sering kali tidak mudah dikenali. Namun, terdapat beberapa ciri khas yang kerap ditemukan dan perlu diwaspadai orangtua maupun lingkungan sekitar.

 

Menurut Gisella, anak menerima hadiah atau perhatian berlebihan dari orang tertentu, termasuk hadiah atau uang dengan sumber yang tidak jelas atau dirahasiakan. Kondisi ini menjadi lebih mengkhawatirkan jika anak menjalin hubungan khusus dengan pihak yang usianya lebih tua, memiliki status sosial, atau profesi tertentu.

 

Selain itu, perubahan perilaku anak yang drastis juga dapat menjadi indikator, seperti suasana hati yang mudah berubah, mudah marah, penurunan prestasi akademik, hingga menarik diri dari pertemanan atau keluarga atau lingkup sosial yang biasanya.

 

“Menunjukkan perilaku atau menggunakan kalimat yang bernuansa seksual di luar kebiasaan atau pengetahuan umum yang orangtua ketahui, memiliki rahasia yang dijaga ketat misalnya kegiatan yang dilakukan sesudah sekolah atau kegiatan online,” jelas psikolog klinis yang berpraktik di Jakarta itu.

 

Gisella menekankan orangtua atau pengasuh melihat tanda-tanda tersebut penting untuk mendekati anak dan berbicara tentang apa yang sedang dialami dengan pendekatan yang penuh empati, menghindari sikap menyalahkan atau menggurui, sehingga anak merasa nyaman dan aman untuk terbuka.

 

Dalam mencegah anak terkena grooming, Gisella juga menyarankan orang tua perlu menjalin relasi pengasuhan konsisten yang meningkatkan rasa kelekatan emosional yang hangat dan tanpa syarat, disertai penerapan batasan yang sehat serta aman untuk perkembangan anak.

 

“Contohkan dan ajari anak mengenai relasi yang sehat, yaitu relasi yang tulus menerima apa adanya, timbal-balik, komunikatif dan hangat, mendiskusikan kepada anak perilaku yang manipulative dan membedakan mengenai rahasia baik dan rahasia buruk,” katanya.

 

Lebih lanjut, Gisella menambahkan agar orang tua usahakan mengetahui dan memahami kegiatan online anak, mengajarkan dan mencontohkan perilaku dalam menggunakan online yang sehat, misalnya durasi penggunaan gawai yang sesuai kebutuhan, memiliki tujuan yang jelas, tidak menyebar identitas pribadi, mengkonsumsi materi yang valid, memberikan komentar yang membangun kepada materi unggah orang lain.

 

“Ajak anak memahami perilaku-perilaku online yang beragam termasuk yang manipulative dan tidak pantas untuk usia nya dan dorong untuk menginfomasikan kepada orang tua jika menerima materi yang tidak pantas,” tutur dia.

 

 

 

Sumber : Antara

Baca juga : Childfree dan Childphobia, Star Lover Kenali Gejala dan Perbedaannya

Bayu

Kebiasaan Sepele yang Memicu Infeksi Saluran Kemih pada Perempuan Muda

Previous article

Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari Menjadi Ruang Dialog

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Lifestyle