Flash InfoLifestyle

Pembajakan Film Rugikan Rp25 Triliun

0
pembajakan film melalui telegram
A man is seen as a silhouette as he checks a mobile device whilst standing against an illuminated wall bearing Telegram's logo in this arranged photograph in London, U.K., on Tuesday, Jan. 5, 2016. The Telegram messaging app, which allows users to encrypt text that self-destructs on a timer, took down a number of channels Islamic State was using for propaganda, highlighting the actions some online companies are taking to react to terrorism. Photographer: Chris Ratcliffe/Bloomberg

STARJOGJA.COM, Info – Industri perfilman Indonesia kembali menghadapi tantangan besar oleh maraknya pembajakan film yang merugikan berbagai pihak. Meskipun produksi film nasional terus meningkat dan kualitasnya kian diakui, praktik ilegal ini masih menjadi ancaman serius yang menghambat pertumbuhan industri dan merugikan pelaku kreatif di balik layar.

Ketua Umum Asosiasi Video Streaming Indonesia (AVISI) Hermawan Susanto mengungkapkan bahwa pembajakan masih menjadi masalah besar yang menghambat perkembangan industri perfilman nasional.

Berdasarkan riset Universitas Pelita Harapan (UPH), kerugian akibat pembajakan film di Indonesia mencapai Rp25 triliun hingga Rp30 triliun per tahun.

“Dulu pembajakan masih pakai CD, kerugiannya sekitar Rp5 triliun per tahun. Sekarang dari 2017 ke 2020 melonjak jadi Rp25 triliun karena cepatnya perkembangan digital,” ujarnya dalam Rapat Kerja Komisi VII DPR RI, Kamis (6/11/2025) lalu.

Hermawan juga menyoroti dampak pembajakan terhadap film Indonesia yang baru dirilis, seperti film Pangku yang sudah beredar di YouTube dan Telegram meskipun baru tayang di bioskop. Ia menilai hal ini sangat merugikan karena menurunkan pendapatan industri dan merusak ekosistem perfilman nasional.

“Pembajakan film ini seperti bendungan yang bocor—airnya banyak tapi tidak sampai ke sawah. Akibatnya, industri tidak bisa berkembang maksimal,” katanya.

Ia berharap pemerintah dapat membantu mengatasi maraknya pembajakan, untuk industri perfilman Indonesia bisa tumbuh dan berdaya saing. Menurutnya, dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia memiliki potensi pasar yang luar biasa untuk mendukung kemajuan film nasional.

“Saya yakin Indonesia adalah pasar terbesar untuk film nasional, bahkan di kawasan ASEAN. Tapi kebocoran ini harus segera ditutup agar industri kita bisa maju,” tambahnya.

Hermawan Susanto menjelaskan, praktik pembajakan kini semakin masif karena kemajuan teknologi digital yang membuat film mudah disebarluaskan secara ilegal. Ia menilai hal ini bukan hanya merugikan rumah produksi, tetapi juga seluruh ekosistem perfilman, dimulai dari pekerja kreatif hingga platform streaming resmi yang kehilangan pendapatan.

“Sekali film dibajak dan tersebar di internet, efeknya sangat luas. Ribuan orang yang terlibat dalam produksi ikut terdampak karena hasil kerja mereka tidak lagi dihargai,” ungkapnya.

Sementara itu, selain menekan kerugian ekonomi, Hermawan menegaskan pentingnya edukasi masyarakat untuk lebih menghargai karya anak bangsa dengan menonton film secara legal. Ia juga berharap penegakan hukum terhadap pelaku pembajakan bisa diperkuat dan dilakukan secara konsisten.

“Kalau masyarakat sadar dan pemerintah tegas, saya yakin industri perfilman kita bisa tumbuh lebih cepat dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujarnya.

Penulis: Syiam Safira

Sumber: bisnis.com

baca juga: 9 Film Pahlawan untuk Rayakan Semangat Pahlawan

Ancaman Monopoli di Tengah Kabar Merger Grab–GoTo

Previous article

Kopi Disebut Efektif Redakan Sembelit

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Flash Info