STARJOGJA.COM, Info – Minuman manis yang dikonsumsi setiap hari berisiko bagi kesehatan hati, karena kelebihan fruktosa dapat diubah menjadi lemak dan memicu perlemakan hati atau fatty liver. Konsultan Gastroenterohepatologi, Irsan Hasan, menyebut kondisi ini berkaitan erat dengan gangguan metabolisme yang dipengaruhi pola hidup sehari-hari.
“Ketika Anda minum minuman manis dalam jumlah besar, organ hati akan kewalahan memproses lonjakan fruktosa tersebut,” kata Irsan.
Kelebihan fruktosa itu diubah menjadi trigliserida atau lemak yang menumpuk di sel hati, dan dalam jangka panjang dapat mengganggu fungsi organ tersebut. Menurut Irsan, perlemakan hati juga berkaitan dengan pola makan tinggi kalori, makanan ultra-proses, dan kurang aktivitas fisik, yang dikenal sebagai Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD).
Fatty liver kerap tidak bergejala pada tahap awal sehingga sering luput disadari. Rasa lelah kronis bisa menjadi keluhan, tetapi tidak spesifik dan perlu pemeriksaan lanjutan untuk memastikan kondisi hati.
Risikonya lebih tinggi pada orang dengan obesitas, diabetes tipe 2 atau pradiabetes, hipertensi, dan gangguan profil lipid. Mereka yang rutin minum minuman kemasan tinggi gula atau fruktosa juga perlu waspada.
Meski begitu, fatty liver tidak hanya dialami orang dengan berat badan berlebih. Kondisi Lean MASLD bisa terjadi pada orang berindeks massa tubuh normal, dan dapat berkaitan dengan lemak viseral di rongga perut, faktor genetik, atau resistensi insulin.
Bila dibiarkan, perlemakan hati dapat berkembang menjadi peradangan (MASH), lalu fibrosis hingga sirosis, dengan komplikasi serius pada tahap lanjut. Untuk mengetahui kondisi hati, pemeriksaan bisa dilakukan lewat tes darah fungsi hati serta pencitraan seperti USG atau FibroScan, karena kadar enzim hati yang normal tidak selalu berarti hati bebas dari penumpukan lemak.
Irsan menyebut perubahan gaya hidup sebagai langkah penting untuk mencegah dan menangani fatty liver, terutama pada tahap awal.
“Obat terbaik untuk fatty liver pada tahap awal bukanlah pil atau suplemen, melainkan perubahan pola makan,” ujarnya.
Perubahan itu antara lain mengurangi gula tambahan, meningkatkan aktivitas fisik, dan menurunkan berat badan secara bertahap bagi penderita obesitas. Aktivitas fisik intensitas sedang, seperti jalan cepat, berenang, atau bersepeda, dianjurkan setidaknya 150 menit per minggu.
Sumber : bisnis
Baca juga : Minuman Manis Tak Langsung Sebabkan Gagal Ginjal, Ini Risikonya







Comments