Lifestyle

Kuda Nil Sumber Teror di Rawa Hadir di Film Thriller Survival Hungry Sutradara James Nunn

0
film hungry
film hungry (cinema 21)

STARJOGJA.COM, Info – Sutradara asal Inggris, James Nunn, kembali menggarap thriller dan horor lewat film terbarunya, Hungry. Filmnya memuat situasi ekstrem, saat ancaman yang terus membesar memaksa para karakter menguji batas kemampuan bertahan hidup mereka.

Kecenderungan itu sudah terlihat dari karya-karya Nunn sebelumnya, seperti One Shot (2021), Shark Bait (2022), dan One More Shot (2024). Ia biasa membangun cerita dari konflik intens, tempo dinamis, dan karakter yang terus berada dalam bahaya.

Formula serupa dipakai di Hungry dengan ritme cepat dan atmosfer mencekam agar intensitas cerita tetap terjaga. Perpaduan horor dan thriller itu membawa kisah bertahan hidup yang terus memancing antisipasi penonton terhadap ancaman yang muncul.

Ceritanya mengikuti Sistine (Madison Davenport) dan Hannah (Olivia Bernstone) yang bergabung dengan rombongan wisatawan menyusuri rawa terpencil di Louisiana, Amerika Serikat. Perjalanan itu semula menawarkan pengalaman menjelajah alam liar dan melihat satwa di habitat aslinya, dengan buaya besar bernama Big Ben sebagai incaran utama.

Petualangan tersebut berubah menjadi berbahaya ketika ancaman tak terduga muncul di kawasan yang jauh dari permukiman. Situasi makin genting setelah serangan kuda nil membalikkan perahu mereka, sehingga seluruh rombongan terjebak di perairan berbahaya tanpa bantuan di dekatnya.

Dari sisi premis, daya tarik Hungry ada pada pilihan kuda nil sebagai ancaman utama, hal yang jarang muncul di film horor serangan satwa. Film sejenis lebih sering memakai hiu, buaya, atau predator lain, sehingga kuda nil menghadirkan pendekatan yang berbeda dan berpotensi memberi ketegangan baru.

Film ini juga mengangkat pola khas genre survival, yakni anggapan manusia bahwa alam bisa dikendalikan sesuai kepentingannya. Anggapan itu runtuh saat mereka menghadapi situasi di luar perkiraan, dan pada akhirnya Hungry mengingatkan bahwa alam adalah lingkungan hidup yang tidak selalu bisa diprediksi.

Dari sisi pengalaman menonton, ketegangan dibangun bertahap lewat sinematografi rawa gelap, kabut, dan kondisi alam yang sulit ditebak. Meski berlatar ruang terbuka, lanskapnya justru terasa klaustrofobik karena para karakter nyaris tak punya ruang untuk kabur.

Suasana mulai berubah ketika antusiasme rombongan melihat buaya berganti cemas setelah mereka mendapati predator itu sudah dimangsa. Riak-riak besar di permukaan air lalu muncul sebagai pertanda ada sesuatu yang lebih berbahaya, dan ketidakjelasan sumber ancaman itulah yang menciptakan teror tersendiri.

Dari jajaran pemain, Madison Davenport tampil meyakinkan sebagai Sistine, sosok yang sigap mencari cara bertahan dan mampu membaca situasi saat terdesak. Karakter pendukung pun diberi latar, seperti duka keluarga atau motivasi pribadi, sehingga nasib mereka punya bobot emosional.

Musik latar dan desain suara turut memperkuat atmosfer, terutama saat kehadiran kuda nil ditandai riak air dan suara gemuruh sebelum wujudnya terlihat. Kelemahannya, adegan berdarah yang tidak terlalu eksplisit mungkin terasa kurang intens bagi penonton yang mengharapkan visual lebih brutal.

Secara keseluruhan, Hungry menyajikan hiburan thriller survival dengan ketegangan bertahap dan ancaman predator yang jarang diangkat. Di balik adegan kejar-kejaran, film ini mengingatkan bahwa manusia punya keterbatasan saat berhadapan dengan alam liar.

Sumber : Antara

Baca juga : Hungry Ghost Festival Hadirkan Komedi Horor Berlatar Tradisi Tionghoa Indonesia

Bayu

ROG XBOX Ally X20 Bundle Meluncur, Handheld Layar OLED Edisi 20 Tahun ROG

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Lifestyle