STARJOGJA.COM, Info – Sutradara Rizal Mantovani kembali menghadirkan film Kuasa Gelap Perjanjian Darah di layar lebar Indonesia mulai 8 Oktober 2026. Sekuel drama eksorsis produksi Paragon Pictures ini tayang dalam format IMAX yang memberikan tingkat kecerahan dan resolusi lebih baik bagi penonton.
Semua pemain tidak mengetahui jika film ini akan didistribusikan ke dalam format IMAX. Oleh karena itu, para pemeran sama sekali tidak melakukan persiapan teknis yang dikhususkan untuk layar IMAX saat berada di depan kamera.
“Sebenarnya dari awal kami tidak dikasih tahu ya Pak Ron ya, bahwa film ini akan akan ditayangkan di IMAX. Tapi yang bisa kami lakukan adalah berusaha semaksimal mungkin supaya kami bisa menjadi karakternya,” kata pemeran Romo Wicaksono, Kiki Narendra saat menjawab pertanyaan ANTARA di Gandaria, Jakarta Selatan Senin (28/9/2026).
Senada, para pemeran seperti Feby Febiola, Ferry Salim, dan banyak lagi memahami bahwa tuntutan untuk berakting maksimal dalam kesempatan apapun merupakan kewajiban mutlak seorang aktor yang tidak bergantung pada ukuran layar yang akan menayangkan.
“Waktu saya membaca skenario Kuasa Gelap dan saya membaca karakter Linda, saya langsung membayangkan alangkah sulitnya menjadi Linda. Kenapa? Dia di antara dua laki-laki yang kuat. Namun di sini dilema karakter yang diperankan harus bisa sampai ke penonton gitu,” kata Feby Febiola.
Layar IMAX yang mampu memperbesar detail visual berkali-kali lipat pada akhirnya menjadi bonus yang menguji kualitas akting mereka.
Segala ekspresi mikro — mulai dari sorot mata ketakutan hingga getaran bibir saat berdoa — akan terpampang tanpa celah di hadapan penonton karena kualitas gambar yang tinggi.
Tantangan sesungguhnya yang dihadapi para aktor di sekuel ini justru terletak pada tingkat kesulitan materi ritual yang meningkat drastis dibandingkan film pertamanya, “Kuasa Gelap” (2024) yang disutradarai oleh Bobby Prasetyo.
Karakter Romo Thomas (Jerome Kurnia) dan Romo Rendra (Lukman Sardi) di sekuelnya harus berhadapan dengan Rephaim, entitas iblis kuno yang jauh lebih kuat dan berbahaya hasil dari belenggu perjanjian darah leluhur.
Menurut Lukman Sardi, konflik yang lebih masif otomatis mengubah struktur ritus pengusiran setan yang ditampilkan.
“Level doa eksorsisme bahasa Latin yang digunakan menjadi jauh lebih berat, panjang, dan bervariasi,” kata Lukman Sardi.
Guna memastikan seluruh pelafalan teologis tersebut akurat dan tidak terputus-putus — yang berisiko mengubah makna sakral doa — para pemeran menjalani latihan bahasa Latin secara berkala namun rutin, yang berjalan selama dua hingga tiga bulan.
Proses latihan itu dipantau langsung oleh Romo Rocky Wowor selaku pastor pendamping, meneruskan fondasi riset yang sebelumnya telah dibangun dalam film pertama bersama konsultan teologi dan eksorsis resmi Vatikan, Romo Dr. Johanes Robini Marianto, OP.
Sumber : Antara







Comments