Lifestyle

Bangun Basis Penggemar Dulu, Baru Monetisasi IP

0
Monetisasi IP
monetisasi IP (bisnis)
STARJOGJA.COM, Info — Membangun intellectual property (IP) tidak jauh berbeda dengan merintis sebuah startup. Dibutuhkan investasi waktu, modal, dan strategi jangka panjang sebelum mampu menghasilkan nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Hal itu mengemuka dalam diskusi mengenai perkembangan industri kreatif yang menyoroti peluang bisnis IP di era digital. Pendekatan tersebut diterapkan Founder Bandits of Batavia, Bryan Valenza, yang memilih membangun dunia cerita dan basis penggemar lebih dahulu sebelum berfokus pada monetisasi melalui merchandise maupun lisensi.
“Menurut saya komik merupakan medium yang paling mudah dinikmati. Komik memadukan cerita dengan visual, sementara audiens Indonesia memiliki kedekatan yang kuat dengan media visual,” kata Bryan, Selasa (4/8/2026).
Sejak mengembangkan Bandits of Batavia pada 2024, Bryan mengangkat cerita yang terinspirasi dari folklore Betawi. Setelah melalui proses riset, ia membangun karakter dan dunia cerita melalui medium komik sebagai pintu masuk utama untuk memperkenalkan IP tersebut kepada publik.
Alih-alih mengejar keuntungan sejak awal, Bryan memilih memperkuat komik sebagai fondasi agar memiliki basis penggemar yang solid. Menurutnya, ketika cerita berhasil diterima pembaca, pengembangan produk turunan seperti merchandise dan lisensi akan jauh lebih mudah dilakukan.
“Sekarang, kami mulai membuka kerja sama untuk merchandising dan licensing. Menurut kami, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai mengembangkan turunan dari IP tersebut,” ujarnya.
Hingga saat ini, penjualan komik masih menjadi sumber pendapatan terbesar Bandits of Batavia. Bryan mengakui tantangan memasarkan komik di Indonesia cukup besar, terlebih proses produksinya dilakukan di Amerika Serikat dan China sehingga biaya produksi serta distribusi lebih tinggi.
Namun, keterbatasan jumlah cetakan justru meningkatkan nilai koleksi komik tersebut. Keberhasilan itu kemudian membuka peluang lebih luas setelah Bandits of Batavia mendapatkan kontrak adaptasi menjadi film live action bersama studio Imaginari.
Selain memperluas bisnis melalui lisensi, Bryan juga tengah menyiapkan konsep fan-based merchandising licensing. Skema tersebut memungkinkan para penggemar memproduksi merchandise resmi seperti kaus, mainan, maupun aksesori setelah melalui proses kurasi dan perizinan.
Managing Director Peka Consult Inc., Kafi Kurnia, menilai bisnis IP memiliki prospek yang semakin menjanjikan karena peluang monetisasinya terus berkembang, tidak hanya melalui penjualan merchandise, tetapi juga kolaborasi dengan berbagai merek, kampanye pemasaran, hingga adaptasi ke berbagai platform hiburan.
“Salah satu contoh fenomena yang menarik adalah karakter Labubu. Secara desain mungkin tidak bisa dibilang luar biasa atau ‘keren-keren amat’. Namun karakter tersebut mampu mendunia karena cara penciptaannya, strategi pemasarannya, dan bagaimana mereka membangun interaksi dengan konsumennya,” kata Kafi.
Menurut Kafi, di era digital kemampuan membangun interaksi dengan audiens menjadi faktor penting bagi kreator. Konsumen tidak lagi sekadar menikmati konten, tetapi ingin terlibat secara langsung dalam pengalaman yang ditawarkan sebuah IP.
Ia menilai semakin kuat keterlibatan komunitas dan basis penggemar yang dibangun sejak awal, semakin besar pula peluang sebuah IP berkembang menjadi bisnis berkelanjutan dengan berbagai sumber pendapatan di masa depan.
Sumber : Antara
Bayu

Riset TBScreen.AI Tunjukkan Potensi Dukung Skrining TB Lebih Cepat dengan Kecerdasan Buatan 

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Lifestyle