STARJOGJA.COM, Info – Keluhan pedagang mengenai sepinya pasar malam belakangan ini ternyata bukan semata-mata disebabkan oleh berkurangnya jumlah pengunjung. Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menilai persoalan utamanya justru terletak pada perubahan pola konsumsi masyarakat yang kini lebih selektif dalam membelanjakan uang.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMY, Diah Setyawati Dewanti, S.E., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa penurunan transaksi di pasar malam dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni melemahnya daya beli masyarakat dan bergesernya perilaku konsumen ke ekosistem digital.
“Kalau kita lihat, masyarakat sebenarnya masih datang ke pasar malam. Namun, yang berubah adalah perilaku belanjanya. Mereka datang untuk menikmati suasana, tetapi pengeluaran konsumsi di lokasi justru menurun,” ujarnya saat diwawancarai secara daring, Selasa (30/6).
Menurut Diah, berbagai penelitian menunjukkan jumlah pengunjung pasar malam relatif stabil. Namun, pelaku UMKM mengaku pendapatannya terus menurun karena banyak pengunjung hanya berjalan-jalan atau membawa makanan dan minuman dari rumah tanpa berbelanja.
“Preferensi masyarakat untuk datang sebenarnya tidak banyak berubah. Yang berubah adalah kemampuan dan keputusan mereka untuk mengeluarkan uang ketika berada di sana,” jelasnya.
Ia menambahkan, kenaikan biaya hidup, mulai dari transportasi, retribusi kawasan hiburan, hingga harga makanan, membuat masyarakat semakin berhati-hati dalam mengatur pengeluaran.
“Kondisi ekonomi rumah tangga membuat masyarakat lebih memilih menikmati hiburan tanpa harus berbelanja. Ini menjadi tantangan serius bagi para pelaku UMKM yang menggantungkan pendapatan dari aktivitas pasar malam,” katanya.
Diah mengingatkan, jika tren tersebut terus berlangsung, dampaknya tidak hanya dirasakan pedagang, tetapi juga dapat memengaruhi perekonomian daerah. Penurunan permintaan berpotensi menekan pendapatan pelaku usaha, memperlambat aktivitas ekonomi lokal, hingga memunculkan poverty trap atau lingkaran kemiskinan apabila tidak segera diantisipasi.
“Kalau permintaan terus menurun, pendapatan pelaku usaha ikut turun. Dalam jangka menengah dan panjang, kondisi ini dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah bahkan memunculkan poverty trap apabila tidak segera diantisipasi,” ungkapnya.
Meski demikian, Diah optimistis pemerintah akan terus memperkuat program pengembangan ekonomi lokal, termasuk melalui pendampingan UMKM agar mampu beradaptasi dengan perubahan pasar. Menurutnya, digitalisasi menjadi salah satu solusi penting sehingga pelaku usaha tidak lagi bergantung sepenuhnya pada keramaian pasar malam.
“Pendampingan UMKM menuju bisnis digital menjadi sangat penting agar ketahanan ekonomi mereka tetap terjaga di tengah perubahan perilaku konsumen,” ujarnya.
Selain faktor ekonomi, perkembangan teknologi digital juga dinilai turut memengaruhi keberlangsungan hiburan tradisional. Masyarakat kini mengalokasikan lebih banyak pengeluaran untuk layanan digital, aplikasi, hiburan daring, hingga gim, sehingga pasar malam harus bersaing dengan berbagai bentuk hiburan yang lebih praktis.
Meski demikian, Diah menilai pasar malam masih memiliki prospek yang baik apabila mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Menurut saya, pasar malam masih memiliki masa depan. Bukan berubah total, tetapi perlu melakukan transformasi sesuai dengan preferensi generasi muda,” tuturnya.
Ia mendorong pengelola menghadirkan konsep yang lebih interaktif dan tematik, seperti pertunjukan budaya yang dikemas secara modern, penampilan musisi lokal, hingga wahana yang mengikuti tren generasi muda. Selain itu, pemanfaatan teknologi seperti pembayaran non-tunai menggunakan QRIS, penyediaan Wi-Fi publik, sistem informasi lokasi pedagang, serta promosi melalui media sosial dinilai dapat meningkatkan daya tarik pasar malam.
“Yang paling penting adalah memastikan pasar malam menjadi tempat yang aman, nyaman, dan memberikan pengalaman yang berbeda sehingga masyarakat ingin kembali datang,” katanya.
Diah menegaskan bahwa revitalisasi pasar malam harus berjalan beriringan dengan upaya memperkuat daya beli masyarakat. Menurutnya, peningkatan kualitas destinasi hiburan tidak akan memberikan dampak optimal apabila kemampuan konsumsi masyarakat masih terbatas.
“Perbaikan dari sisi pasar malam harus berjalan beriringan dengan penguatan daya beli masyarakat. Dua hal ini saling berkaitan dan harus dilakukan secara sinergis agar UMKM tetap tumbuh dan ekonomi lokal semakin kuat,” pungkasnya.
Sumber : Humas UMY







Comments