STARJOGJA.COM, Info – Ketua Umum Asosiasi Artisan Teh Indonesia, Redha Taufik Ardias, menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan specialty tea di tengah tren global gaya hidup sehat atau wellness economy. Namun, potensi tersebut dinilai belum dimanfaatkan secara maksimal oleh industri teh nasional.
Menurut Redha, Indonesia merupakan salah satu dari delapan pasar teh terbesar di dunia dengan nilai pasar domestik mencapai sekitar Rp28 triliun hingga Rp35 triliun. Meski konsumsi teh terus meningkat, produksi nasional justru mengalami penurunan sehingga menjadi tantangan serius bagi industri.
“Konsumsi naik, tapi produksi turun, ini adalah sinyal struktural yang serius. Artinya, kita kuat di demand, tapi lemah di value creation,” kata Redha.
Ia menilai industri teh Indonesia perlu mulai beralih dari fokus produksi massal menuju pengembangan specialty tea yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Pasalnya, persaingan industri teh global kini tidak lagi hanya bergantung pada volume produksi, tetapi kualitas dan nilai produk.
Redha menjelaskan tren wellness economy membuka peluang besar bagi teh Indonesia karena teh kini dipandang sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Kandungan seperti L-Theanine dan catechin dinilai membuat teh memiliki daya tarik kuat di pasar kesehatan global.
Menurutnya, artisan tea menjadi jalur realistis bagi Indonesia untuk keluar dari jebakan komoditas bernilai rendah. Saat ini sekitar 83 persen ekspor teh nasional masih berupa bulk tea, sementara specialty tea dan produk premium baru menyumbang sebagian kecil pasar.
Padahal, Indonesia memiliki sejumlah produk teh single origin yang telah diakui kualitasnya di dunia, seperti Java Preanger, Malabar, hingga teh Kayu Aro dari Kerinci. Redha menilai tantangan utama industri teh nasional bukan pada kualitas produk, melainkan belum kuatnya sistem nilai dan positioning industri secara terintegrasi.
Sumber : Bisnis
Baca juga : Menikmati Teh Premium di Negara Penghasil Teh Terbesar







Comments