STARJOGJA.COM, Info – Kemunculan varian baru Covid-19 kembali menjadi perhatian, termasuk subvarian BA.3.2 yang dikenal sebagai “Covid-19 Cicada”. Fenomena ini dinilai sebagai bagian dari proses evolusi virus SARS-CoV-2 yang terus beradaptasi.
“Evolusi Covid-19 saat ini bergerak ke arah immune escape dan transmissibility,” kata Dicky Budiman dalam keterangannya, Sabtu (4/4/2026).
Ia menjelaskan varian-varian baru saat ini memiliki karakteristik berbeda dibandingkan awal pandemi. Infeksi yang ditimbulkan cenderung tidak berat, namun memiliki kemampuan menghindari kekebalan tubuh.
“Namun, kecenderungannya tidak mengarah pada peningkatan virulensi, keparahan, atau kematian. Jadi, fokusnya tetap pada kemampuan menghindari imun dan penularan,” imbuhnya.
Selain itu, peningkatan kemampuan penularan juga menjadi ciri utama varian baru Covid-19. Kondisi ini menyebabkan virus lebih mudah menyebar di masyarakat meski tidak selalu meningkatkan tingkat keparahan kasus.
Menurutnya, secara epidemiologis kemunculan varian baru lebih sering memicu infeksi ulang dibanding lonjakan kasus berat. Hal ini terjadi karena semakin banyak populasi yang kembali rentan terhadap infeksi.
Sementara itu, hingga kini belum ditemukan bukti adanya peningkatan signifikan pada gejala berat akibat varian baru. Sebagian besar kasus masih tergolong ringan hingga sedang tanpa lonjakan angka rawat inap maupun kematian.
Masyarakat pun diimbau untuk tidak panik dalam menyikapi kemunculan varian baru tersebut. Upaya pencegahan tetap sama, seperti melengkapi vaksinasi booster dan menerapkan protokol kesehatan.
Selain itu, penting untuk menjaga kualitas ventilasi dan sirkulasi udara di dalam ruangan. Isolasi mandiri juga dianjurkan apabila mengalami gejala atau dinyatakan positif Covid-19.
Langkah-langkah tersebut dinilai masih efektif mengingat penularan virus tetap terjadi melalui droplet dan aerosol.
Sumber : bisnis







Comments