STARJOGJA.COM.INFO . Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman serius di Indonesia dengan angka kematian yang tinggi, mencapai sekitar 12-14 orang setiap jam. Meski berbagai upaya penanggulangan terus dilakukan, Indonesia masih menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus TBC.
Hal ini disampaikan oleh dr. Rina Triasih, M.Med (Paed), Ph.D, Sp.A(K) dalam podcast TropmedTalk yang diselenggarakan oleh Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS). Podcast berdurasi 42 menit ini dipublikasikan di Kanal Youtube Tropmeducation pada Sabtu (4/4) pagi.
Dalam podcast episode ke-37 tersebut, dr. Rina menyampaikan bahwa penyebutan angka kematian tersebut diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap TBC.
“Ini sama bahayanya dengan COVID,” ujarnya.
Namun karena TBC sudah ada sejak lama dan menyebabkan korban jiwa secara perlahan, penyakit ini kerap dianggap kurang berbahaya. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa gejala TBC tidak langsung muncul setelah seseorang tertular kuman, melainkan baru berkembang dalam rentang waktu sekitar 4-12 minggu.
Kondisi ini memungkinkan kasus tidak terdeteksi sejak dini, sehingga meningkatkan risiko keterlambatan penanganan dan penularan di masyarakat.
dr. Rina juga menyampaikan bahwa Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus TBC, dengan estimasi mencapai 1.090.000 kasus. Angka ini menunjukkan peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi ini menegaskan bahwa TBC masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius, meskipun berbagai upaya penanggulangan terus dilakukan untuk mencapai target eliminasi TBC pada 2030. Namun, peningkatan tersebut juga dapat mencerminkan semakin membaiknya upaya penemuan kasus yang sebelumnya belum terdeteksi.
Di sisi lain, dr. Rina menyoroti sejumlah tantangan dalam upaya pengendalian TBC di Indonesia. Selain faktor geografis yang menyebabkan ketimpangan akses layanan kesehatan antarwilayah, stigma di masyarakat juga masih menjadi hambatan besar.
Tidak sedikit orang yang enggan memeriksakan diri karena takut didiagnosis TBC, bahkan khawatir akan kehilangan pekerjaan. Padahal, keterlambatan diagnosis justru meningkatkan risiko penularan dan memperburuk kondisi pasien.
Untuk menjawab tantangan tersebut, dr. Rina yang juga menjabat sebagai Direktur Zero TB Yogyakarta, menjelaskan pentingnya pendekatan komprehensif dalam penanggulangan TBC melalui strategi search, treat, and prevent.
Pendekatan ini mencakup penemuan kasus secara aktif (active case finding/ACF), pengobatan yang tepat dan tuntas, serta pemberian terapi pencegahan bagi kelompok berisiko.
“Namun upaya ini tidak akan tercapai jika hanya dilakukan sektor kesehatan saja,” imbuhnya.
Diperlukan dukungan dan keterlibatan berbagai sektor, termasuk pemerintah, swasta, dan masyarakat, agar pengendalian TBC dapat berjalan secara optimal.
Terkait hal ini, dr. Rina mengapresiasi berbagai inovasi yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). Salah satunya melalui penerapan ACF dengan memanfaatkan rontgen portabel yang telah didistribusikan ke berbagai daerah.
“Ini inovasi yang sangat bagus dalam menjangkau kasus-kasus TBC yang sebelumnya tidak terdeteksi,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti rencana pengembangan layanan skrining terpadu melalui konsep One Stop Service (OSS) yang mengintegrasikan pemeriksaan TBC dengan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG). Upaya ini diharapkan dapat mempercepat deteksi dan penanganan kasus di masyarakat.
Tak lupa, dr. Rina menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mendukung upaya eliminasi TBC. Masyarakat diimbau untuk tidak menyepelekan gejala seperti batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Selain itu, pemahaman bahwa TBC dapat disembuhkan serta bukan merupakan penyakit keturunan juga perlu terus disosialisasikan guna mengurangi stigma dan meningkatkan kepatuhan berobat dalam upaya eliminasi TBC di Indonesia.







Comments