Lifestyle

Melihat Fenomena Tarot di Kalangan Gen Z dari Sudut Psikologi

0
tarot Gejala Depresi Dari Foto Profil
Gejala depresi dapat terlihat dari tampilan foto profil seseorang (Freepik)

STARJOGJA.COM, Info –  Generasi Z sering menghadapi situasi yang memicu depresi dan memilih antisipasinya salah satunya dengan penggunaan kartu tarot. Saat ini, tidak jarang banyak generasi Z yang memilih kartu tarot sebagai salah satu perspektif dalam mengurai rasa gelisah akan hal yang sudah atau belum terjadi.

 

Anggapan Tarot sebagai Kejelasan Arah hidup Menanggapi fenomena ini, Psikolog Klinis UNAIR Dian Kartika Amelia Arbi MPsi memberikan pandangannya dalam perspektif psikologi. Ia menyampaikan bahwa tarot bukanlah suatu hal baru, melainkan sudah ada dari beberapa generasi sebelumnya. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa spesifik pada Gen Z?

 

“Dari perspektif psikologi, salah satunya itu sebagai salah satu cara individu atau Gen Z, ketika mereka menghadapi sesuatu yang tidak enak, mereka merasa tidak berdaya. Mereka berusaha mencari penjelasan eksternal atas apa yang mereka hadapi saat ini. Jadi hal itu diharapkan memberikan rasa tenang,” jelasnya.

 

 

Lebih lanjut, ia menggambarkan bahwa pembacaan tarot dapat memunculkan khayalan atas individu untuk bisa memprediksi atau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Sehingga, hal tersebut dapat mengurangi kecemasan dan menjadi salah satu coping mechanism pada individu tersebut.

 

 

“Misalnya karena mereka menghadapi sesuatu yang tidak bisa mereka prediksi, mereka mengalami kecemasan. Sehingga tarot ini menawarkan sesuatu atau narasi-narasi tentang diri mereka tanpa judgement atau apapun yang bisa dianggap menenangkan,” imbuhnya.

 

 

Dampak dan Solusi

Kemudian, Dosen Fakultas Psikologi UNAIR itu  juga menyampaikan dampak dari penggunaan tarot.

 

“Jika itu dijadikan sebagai pendorong evaluasi yang justru membuat individu itu berkembang, tidak masalah. Tapi ada hal-hal lain yang justru bisa menjadi warning pada diri ketika terlalu mengandalkan pemikiran-pemikiran yang ditawarkan oleh tarot yang menghambat problem solving,” tuturnya.

 

 

Pemikiran yang membuat individu tidak berusaha memperbaiki situasi dirinya karena merasa bahwa apa yang terjadi sudah ditakdirkan, dari perspektif psikologi disebut self-fulfilling prophecy.

 

“Jadi bukan ramalan atau prediksi itu yang memang nyata terjadi, tapi memang karena kita sudah meyakini hal itu sebelumnya akan terjadi, sehingga energi kita mengarahkan pada berlaku yang kita prediksi sebelumnya.” ungkapnya.

 

 

Dian memberikan tips menghadapi stres secara mandiri. Yakni dengan belajar untuk mengelola stres dengan beberapa cara. Seperti journaling, mengelola waktu, mengonsumsi makanan yang bergizi dan berolahraga secara rutin. Namun, dalam menghadapi krisis emosional, ketika individu tidak mampu menangani sendiri, maka hal terbaik adalah mendatangi psikolog maupun psikiater untuk mendapatkan penanganan secara profesional.

 

 

Sumber : UNAIR

Baca juga : Lampion Wonderland De Mangol View Jogja, Tradisi Baru Rayakan Malam Pergantian Tahun

Bayu

Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari Menjadi Ruang Dialog

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Lifestyle