Lifestyle

Stres Kerja Tak Selalu Buruk, Kenali Perbedaan Eustress dan Distress

0
Perbedaan Eustress dan Distress kelelahan akut overthinking mengganggu aktivitas
stres berat (jibi)
STARJOGJA.COM, Info – Tekanan di tempat kerja tidak selalu berdampak negatif karena dalam batas tertentu dapat membantu seseorang lebih fokus, produktif, dan berkembang. Namun, ketika tuntutan melampaui kemampuan untuk mengelolanya, stres justru berpotensi mengganggu kesehatan mental dan aktivitas sehari-hari.
Psikiater RS Hermina Jatinegara, dr. Dimas Muhammad, menjelaskan stres merupakan respons alami tubuh dan pikiran saat menghadapi tekanan. Dampaknya bergantung pada kemampuan seseorang dalam mengelola tuntutan yang dihadapi.
Dimas membedakan stres menjadi dua jenis, yakni eustress dan distress. Eustress merupakan tekanan yang masih dapat dikelola dan mendorong seseorang berkembang, sementara distress terjadi ketika tekanan terasa berlebihan hingga mengganggu keseharian.
“Stres itu tidak selalu buruk. Ada yang namanya eustress, ketika stres itu justru membuat kita berkembang, membuat kita termotivasi. Tapi ada juga distress, ketika stres itu sudah tidak bisa kita kelola,” kata Dimas.
Eustress dapat muncul saat pekerja menghadapi target, tantangan, atau tanggung jawab baru. Dalam kondisi tersebut, tekanan bisa menjadi pemicu untuk mempersiapkan diri, mencari solusi, dan meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan pekerjaan.
Sebaliknya, distress muncul ketika seseorang merasa terancam, frustrasi, atau tidak mampu mengatasi tekanan yang dihadapi. Jika berlangsung dan semakin mengganggu, kondisi ini dapat menurunkan motivasi serta menghambat aktivitas sehari-hari.
Untuk membedakan tekanan yang masih produktif dengan stres yang perlu diwaspadai, pekerja perlu mengenali perubahan pada pikiran, emosi, dan kondisi fisik.
“Kalau pikirannya sudah terganggu, perasaannya sudah tidak nyaman sekali, dan perjalanan fisiknya juga mulai aneh-aneh, itu biasanya alarm,” ujar Dimas.
Tanda-tanda tersebut dapat berupa kesulitan berkonsentrasi, kecemasan berkepanjangan, gangguan tidur, hingga perubahan kondisi fisik. Apabila gejala mulai menghambat pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari, bantuan profesional dapat menjadi langkah yang perlu dipertimbangkan.
Dimas menekankan pentingnya mempelajari cara merespons tekanan, bukan sekadar berusaha menghilangkan stres. Pekerja dapat mulai dengan mengambil jeda sebelum bereaksi, mengatur pernapasan, serta mengenali pikiran dan emosi yang muncul.
Sejumlah teknik sederhana, seperti grounding, latihan pernapasan, dan journaling, juga dapat membantu seseorang memahami pola responsnya ketika menghadapi situasi yang menekan.
Selain itu, Dimas memperkenalkan metode SPERK yang terdiri atas Situasi, Pikiran, Emosi, Reaksi, dan Konsekuensi. Metode ini dapat digunakan sebagai kerangka untuk mengenali rangkaian respons seseorang ketika menghadapi tekanan.
Sumber : Antara
Bayu

Kemenpar Promosikan Wisata Kebugaran dan Kuliner Yogyakarta ke Agen Perjalanan Singapura

Previous article

Waspadai jika batuk berlangsung lebih dari dua pekan

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Lifestyle