STARJOGJA.COM, Info – Konser musik kini berkembang melampaui fungsi hiburan dan menjadi salah satu ruang bagi anak muda untuk menunjukkan identitas sosial. Guru Besar Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs., M.Si. melihat perubahan tersebut dari cara penggemar memilih musisi hingga sikap mereka terhadap isu sosial.
“Konser tidak lagi hanya menjadi momentum fandom untuk hura-hura. Menonton konser juga menjadi sarana memperlihatkan identitas sosial,” kata Prof. Bagong saat dihubungi ANTARA pada Rabu (7/10/2026).
Menurut Bagong, anak muda saat ini semakin memiliki kepedulian terhadap berbagai persoalan, seperti isu sosial, lingkungan, pemberdayaan perempuan, dan hak asasi manusia. Sikap kritis tersebut tidak selalu diwujudkan melalui aksi unjuk rasa, tetapi juga dapat muncul dalam aktivitas hiburan dan budaya populer.
“Jadi, sikap kritisnya tidak selalu dimanifestasikan dalam aksi unjuk rasa. Mereka memadukan aktivitas pleasure dengan aktivitas sosial,” kata Prof. Bagong.
Kecenderungan tersebut juga terlihat dari pertimbangan sebagian penggemar ketika menentukan sosok yang mereka idolakan. Artis tidak hanya dipandang dari penampilan, tetapi juga dari nilai dan kepedulian sosial yang mereka miliki.
“Artis yang dipuja tidak harus yang ganteng atau cantik, tetapi harus memiliki nilai plus kepedulian sosial,” katanya.
Bagong mencontohkan penggemar Iwan Fals. Menurut dia, banyak penggemar musisi tersebut menyukai karya-karyanya yang memuat kritik sosial, termasuk lagu Bongkar dan Bento.
Namun, ia menegaskan bahwa tidak semua penggemar Iwan Fals memiliki tingkat kepedulian sosial yang sama. Hal serupa juga berlaku bagi penggemar artis lain yang dikenal memiliki perhatian terhadap persoalan sosial dan kemanusiaan.
Menurut Bagong, pilihan penggemar dalam menikmati karya musik dan mengidolakan seorang musisi lebih mencerminkan harapan mereka terhadap sosok yang diidolakan.
“Lebih pada harapan,” kata Prof. Bagong.
Kelompok penggemar yang menjadikan nilai, sikap kritis, dan kepedulian sosial sebagai pertimbangan dalam memilih idola memang belum dominan. Meski demikian, Bagong melihat kecenderungan tersebut menunjukkan pertumbuhan.
Perkembangan itu sekaligus memperluas hubungan antara musisi dan penggemarnya. Konser musik kemudian menjadi ruang ekspresi yang memungkinkan seni, hiburan, dan kepedulian terhadap berbagai persoalan sosial hadir secara bersamaan.
Fenomena tersebut salah satunya terlihat dalam pelaksanaan Pestapora 2025. Keterlibatan PT Freeport Indonesia sebagai sponsor memicu penolakan dari sejumlah musisi hingga penyelenggara memutuskan kerja sama dengan perusahaan tambang tersebut.
Gambaran lain terlihat dari pengeluaran rapper Macklemore dari daftar penampil pendukung dalam rangkaian tur konser Ed Sheeran di Amerika Serikat. Macklemore disebut dikeluarkan setelah menyuarakan dukungan terhadap pembebasan Palestina saat tampil dalam konser Ed Sheeran di New Jersey pada September 2026.
Peristiwa tersebut kemudian mendorong sejumlah penampil pendukung lain ikut mundur serta memicu protes dan polemik. Berbagai kejadian itu menunjukkan konser musik dapat menjadi ruang bagi anak muda dan musisi untuk mengekspresikan sikap kritis serta nilai yang mereka anggap penting.
Dengan demikian, konser musik tidak lagi semata-mata dipahami sebagai acara seni dan hiburan. Bagi sebagian anak muda, keterlibatan dalam konser dan fandom juga dapat menjadi bagian dari cara mereka memperlihatkan identitas sosial dan kepedulian terhadap persoalan di sekitarnya.
Sumber : Antara







Comments