STARJOGJA.COM, Info – Karya seniman kontemporer Indonesia Christine Ay Tjoe kembali mencatat transaksi bernilai tinggi di pasar seni internasional. The Highest Player 01 terjual HK$12,16 juta atau sekitar Rp27,88 miliar melalui balai lelang Christie’s Hong Kong pada September 2026.
Pencapaian tersebut memperkuat rekam jejak Ay Tjoe di pasar seni global. Sebelumnya, karya …to See the White Land terjual HK$16,97 juta di Christie’s pada 2026 dan menjadi rekor lelang dunia bagi sang seniman.
Pengamat seni Agus Dermawan T. menilai tingginya transaksi karya Ay Tjoe belum bisa dijadikan gambaran kondisi pasar seni rupa Indonesia secara keseluruhan. Menurutnya, transaksi tersebut lebih menunjukkan terbentuknya pasar untuk seniman tertentu yang telah memiliki posisi kuat.
“Sebenarnya bukan pasar seni rupa Indonesia ya, tapi pasar dari seniman itu. Jadi pasar kita tetap begini-begini saja,” kata Agus.
Menurut Agus, pasar seni cenderung memberikan perhatian lebih besar kepada nama-nama yang telah memiliki status ikonik. Dalam konteks tersebut, Ay Tjoe dinilai telah menempati posisi sebagai salah satu ikon seni rupa kontemporer Indonesia.
“Pasar itu kan selalu memilih dan takdirnya memang pasar itu selalu mencari ikon,” ujarnya.
Pandangan mengenai keberhasilan individual juga disampaikan kolektor Wiyu Wahono. Ia melihat pencapaian Ay Tjoe sebagai keberhasilan seorang seniman yang turut didukung oleh representasi galeri internasional.
“Menurut saya hanya individu ya, yang terutama Ay Tjoe Christine yang mewakili seni kontemporer, karena dia direpresentasi oleh White Cube Gallery, galeri internasional,” kata Wiyu.
Menurut Wiyu, keberadaan galeri internasional tersebut turut memperkuat posisi karya Ay Tjoe di pasar global. Ia juga melihat karya sang seniman mulai memiliki daya tarik sebagai aset investasi.
Sementara itu, kondisi pasar seni rupa di dalam negeri menghadapi situasi berbeda. Founder Nadi Gallery Biantoro Santoso menyebut aktivitas pasar dalam beberapa tahun terakhir cenderung stagnan seiring tekanan terhadap kondisi bisnis secara umum.
“Kalau kita ngomong beberapa tahun terakhir memang ada stagnan, tapi sebenarnya bukan hanya di lukisan. Semua bisnis sekarang juga terdampak kondisi ekonomi,” ujarnya.
Meski pasar mengalami tekanan, Biantoro mengatakan aktivitas pembelian oleh kolektor masih berlangsung. Namun, alasan membeli karya seni menurutnya kini lebih banyak berkaitan dengan apresiasi terhadap karya dibandingkan mengejar keuntungan investasi.
“Lebih banyak kolektor membeli karena kecintaannya saja. Investasi nomor dua,” katanya.
Pergerakan pasar juga terlihat pada segmen karya dengan harga yang lebih terjangkau. Perwakilan Jagad Gallery Sahril mengatakan karya dengan harga sekitar Rp6 juta hingga Rp50 juta relatif lebih aktif diminati, khususnya oleh kolektor baru.
“Yang jalan sekarang justru karya-karya di harga Rp6 juta sampai Rp7,5 juta. Variasinya tipis, tapi lebih cepat diserap pembeli,” kata Sahril.
Tingginya harga karya Christine Ay Tjoe di balai lelang internasional dengan demikian menunjukkan kuatnya posisi sejumlah nama seniman Indonesia di pasar global. Namun, kondisi tersebut berjalan berdampingan dengan dinamika pasar domestik yang masih menghadapi tantangan ekonomi dan memiliki pola permintaan berbeda.
Sumber : Antara
Baca juga : Christine Hakim Menerima Lifetime Achievement Award di MGGA 2024







Comments