Lifestyle

Psikolog Ingatkan Etika Bermedia Sosial, Terlebih bagi Tenaga Kesehatan

0
zero post etika tenaga kesehatan di media sosial
media sosial (ist)
STARJOGJA.COM, Info –  Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia (UI) sekaligus Direktur Personal Growth, Ratih Ibrahim, mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Menurutnya, perilaku seseorang di ruang digital dapat mencerminkan karakter, nilai, hingga integritas yang dimilikinya.
Pernyataan tersebut disampaikan Ratih menyusul viralnya unggahan Yurizal Tri Chaerawan yang memperlihatkan tenaga kesehatan (nakes) diduga merundung dirinya di media sosial. Yurizal sebelumnya menyampaikan keluhan terkait lamanya waktu menunggu ketersediaan kamar rawat inap sebelum kemudian meninggal dunia pada 31 Juli 2026.
“Media sosial itu memang sebuah ruang untuk berekspresi. Tapi media sosial bukan ruang yang bebas dari tanggung jawab. Setiap unggahan mencerminkan karakter, nilai, dan integritas seseorang,” kata Ratih saat dihubungi ANTARA, Minggu (9/8/2026).
Menurut Ratih, tanggung jawab dalam menggunakan media sosial menjadi semakin penting bagi tenaga kesehatan karena kepercayaan masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari profesi tersebut.
Karena itu, ia menilai etika profesional tenaga kesehatan tidak seharusnya berhenti ketika jam kerja selesai. Prinsip tersebut juga perlu tercermin dalam perilaku tenaga kesehatan ketika berinteraksi di ruang digital.
“Menjaga empati, menghormati martabat pasien, serta menjaga kerahasiaan dan profesionalisme merupakan fondasi yang tidak boleh ditinggalkan,” ujarnya.
Ratih mengatakan tenaga kesehatan tetap perlu menghormati pasien ketika menggunakan media sosial, termasuk ketika menghadapi situasi yang memicu emosi maupun tekanan dalam pekerjaan.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan masyarakat secara umum agar tidak melupakan bahwa setiap akun media sosial merepresentasikan manusia yang memiliki perasaan dan martabat.
“Di balik setiap akun media sosial ada manusia yang memiliki perasaan dan martabat,” ucapnya.
Menurut Ratih, pengguna media sosial perlu mempertimbangkan sejumlah hal sebelum mengunggah sesuatu maupun memberikan komentar. Langkah tersebut penting untuk mencegah seseorang menyampaikan informasi atau komentar yang dapat merugikan maupun menyakiti pihak lain.
Ia menyarankan pengguna media sosial memastikan informasi yang disampaikan benar, mempertimbangkan apakah informasi tersebut memang perlu disampaikan, serta memastikan cara penyampaiannya tetap menghormati orang lain.
“Sebelum mengunggah atau berkomentar, tanyakan pada diri sendiri, Apakah ini benar? Apakah ini perlu? Apakah ini disampaikan dengan cara yang menghormati orang lain?” ujar Ratih.
Apabila ketiga pertanyaan tersebut belum dapat dijawab dengan yakin, Ratih menyarankan seseorang menahan diri sejenak sebelum mengunggah maupun memberikan komentar di media sosial.
Menurutnya, kebiasaan berhenti sejenak dan mempertimbangkan dampak sebuah unggahan dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga etika, empati, dan tanggung jawab dalam berinteraksi di ruang digital.
Sumber : Antara
Bayu

Dari Perca Batik Jadi Produk Fashion, Mahasiswa UMY Kembangkan ReStitch

Previous article

1O1 STYLE Yogyakarta Malioboro dan Hotel Lainnya Peringati Hari Konservasi Alam Nasional dengan Lepas 101 Tukik

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Lifestyle