HealthLifestyle

UNAIR Kembangkan Malaiscope untuk Percepat Diagnosis Malaria  

0
hari malaria sedunia Malaria Knowlesi malaiscope
Ilustrasi nyamuk penyebab malaria (ist)
STARJOGJA.COM, Info –  Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) mengembangkan Malaiscope, sistem cerdas klasifikasi sel darah otomatis untuk membantu diagnosis malaria. Inovasi tersebut berhasil memperoleh pendanaan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
Pengembangan Malaiscope berangkat dari masih terbatasnya akses layanan kesehatan di wilayah terpencil yang kerap menyebabkan keterlambatan diagnosis penyakit malaria. Kondisi tersebut dinilai dapat menurunkan peluang pasien memperoleh penanganan secara cepat dan tepat.
Tim pengembang terdiri atas Stefanus Adi Nugraha, Rani Dwi, Mutia Nastiti, dan Habib Aulia dari Fakultas Vokasi, serta Ardhia Hanindya dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR.
Stefanus mengatakan inovasi tersebut lahir dari kolaborasi lintas disiplin ilmu untuk menjawab persoalan kesehatan yang masih banyak ditemukan di lapangan.
“Karena sumber daya manusia kami berasal dari bidang kesehatan, teknis, dan sosiologi, tentunya kami mencoba untuk menjadi inisiator dan inovator dari masalah yang terjadi di lapangan,” ujar Stefanus.
Menurut data yang ada, Indonesia masih mencatat ratusan ribu kasus malaria dengan angka kematian yang cukup signifikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menegaskan bahwa peningkatan kapasitas diagnosis dan pengobatan yang tepat menjadi syarat utama dalam upaya eliminasi malaria.
Namun, wilayah dengan tingkat penyebaran malaria yang tinggi umumnya berada di daerah terpencil yang masih menghadapi keterbatasan tenaga kesehatan, fasilitas laboratorium, dan teknologi diagnosis. Kondisi tersebut menyebabkan banyak kasus terlambat terdeteksi.
Habib menjelaskan Malaiscope dirancang untuk mendeteksi parasit malaria pada sel darah merah secara otomatis. Dibandingkan metode konvensional, teknologi tersebut menawarkan hasil pemeriksaan yang lebih cepat, akurat, dan presisi sehingga dapat membantu analis laboratorium menentukan status infeksi pasien secara lebih efisien.
Sementara itu, Rani berharap inovasi tersebut dapat meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan diagnosis malaria yang berkualitas.
“Kami berharap Malaiscope dapat membantu meningkatkan akses diagnosis malaria yang cepat, akurat, dan terjangkau di daerah terpencil yang memiliki keterbatasan tenaga kesehatan maupun fasilitas laboratorium,” katanya.
Tim pengembang juga berharap penelitian dan pengembangan Malaiscope dapat terus berlanjut sehingga mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Harapan kami, inovasi alat deteksi malaria ini dapat terus dikembangkan agar lebih akurat, mudah digunakan, dan memberikan manfaat nyata dalam membantu deteksi dini serta meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat,” ujar Mutia.
Melalui inovasi tersebut, mahasiswa UNAIR berharap dapat berkontribusi dalam menekan angka keterlambatan diagnosis malaria sekaligus meningkatkan kualitas layanan kesehatan di wilayah terpencil Indonesia.
Sumber : Humas Unair
Bayu

Dokter Ingatkan Batas Konsumsi Kopi Saat Begadang Nonton Bola

Previous article

Kontrol Berlebihan dari Pasangan Bisa Jadi Tanda Kekerasan Psikologis

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Health