STARJOGJA.COM, Info – Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia Ratriana Naila Syafira mendorong orang tua untuk mengalihkan penggunaan gawai pada anak dengan kegiatan yang lebih interaktif. Aktivitas alternatif dinilai penting untuk mendukung tumbuh kembang sekaligus memperkuat hubungan emosional anak dan orang tua.
“Orang tua perlu membantu cari kegiatan alternatif yang sesuai dengan usia perkembangannya masing-masing,” kata Ratriana saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa (8/4/2026).
Pada usia balita, stimulasi perkembangan menjadi fokus utama yang perlu diperhatikan orang tua dalam setiap aktivitas. Interaksi dua arah juga menjadi kunci agar anak dapat berkembang secara optimal di berbagai aspek.
“Misal membaca buku secara interaktif di mana orang tua tidak hanya membacakan cerita, tetapi juga menanyakan kembali tanggapan anak. Anak juga dapat diminta untuk memegang suatu barang, olahraga, menyusun balok, menggambar atau mewarnai dan bermain plastisin.”
Memasuki usia 6 hingga 12 tahun, anak mulai membutuhkan ruang untuk mengeksplorasi kemampuan diri, termasuk kemandirian dan keterampilan sosial. Pada fase ini, orang tua dapat mengarahkan anak pada berbagai kegiatan yang menstimulasi kreativitas dan pemecahan masalah.
“Dikarenakan pada usia ini biasanya anak sudah sekolah, anak dapat mengikuti ekstrakurikuler, bermain permainan papan kegiatan kreatif seperti eksperimen atau membuat kerajinan, membantu aktivitas sehari-hari berupa memasak sederhana, atau merapikan kamar.”
Sementara itu, pada usia remaja di atas 12 tahun, minat dan bakat anak umumnya mulai terbentuk dengan lebih jelas. Orang tua pun perlu menyesuaikan pendekatan dengan memberikan ruang sekaligus tetap hadir secara emosional.
“Di usia remaja biasanya sudah butuh banyak privasi atau ruang, tapi orang tua tetap harus siap sedia hadir untuk jadi tempat berpulang yang aman bagi anak,” ujar dia.
Ratriana menilai kehadiran orang tua secara utuh tanpa distraksi menjadi faktor penting dalam membangun kedekatan dengan anak. Kualitas interaksi dinilai lebih berpengaruh dibandingkan lamanya waktu kebersamaan.
“Jadi jangan hanya berdampingan tapi kegiatan masing-masing, responsif. Dengarkan anak, tanggapi dan konsisten,” katanya.
Ia menambahkan, waktu berkualitas tidak harus lama selama dilakukan dengan perhatian penuh. Aktivitas sederhana sehari-hari tetap dapat memberikan dampak besar pada kelekatan emosional anak.
“Mengutip sebuah hasil riset, 15 sampai 30 menit yang berkualitas dengan perhatian penuh lebih baik bagi kelekatan anak dengan orang tua dibandingkan berjam-jam tapi tidak penuh perhatian.”
Penggunaan gawai yang berlebihan juga dinilai tidak secara langsung membuat anak menjadi tertutup. Namun, pola penggunaan yang tidak sehat dapat berdampak pada pemenuhan kebutuhan emosional anak.
“Anak bisa tidak terbiasa mengekspresikan emosi secara terbuka, tidak merasa dipahami atau direspons secara konsisten, jadi anak lebih sulit membangun atau mengenali rasa aman dalam sebuah relasi,” ucapnya.
Menurutnya, perubahan perilaku anak lebih dipengaruhi oleh kurangnya kelekatan emosional dengan orang tua. Hal ini dapat berdampak pada kemampuan anak dalam mengenali situasi aman maupun mencari bantuan.
“Bagaimana kaitan dengan kekerasan? Anak jadi lebih sulit mencari pertolongan atau bahkan menyadari dirinya berada dalam situasi yang tidak aman. Jadi kunci utamanya tetap balik ke orang tua, orang tua yang hadir secara emosional, responsif, hangat, terbuka dan membuat anak merasa diterima apa adanya, akan menjadi faktor protektif yang kuat,” tambahnya.
Sumber : Antara
Baca juga : Minim Terpapar Gawai, Ini Ide Permainan yang Asyik Dimainkan saat Libur Lebaran







Comments