STARJOGJA.COM, Info – Doomscrolling atau kebiasaan menggulir media sosial tanpa henti semakin sering terjadi dan berdampak pada kesehatan mental. Fenomena ini bahkan dikaitkan dengan istilah “brain rot” yang menggambarkan penurunan fungsi berpikir akibat konsumsi konten digital berlebihan.
“Penyebab masalah kesehatan jiwa juga. Ini namanya buka sosmed yang nggak ada tujuannya,” ujar Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya, Kamis (2/4/2026).
Istilah brain rot merujuk pada kondisi menurunnya kemampuan fokus, daya ingat, hingga suasana hati akibat paparan konten berlebihan. Meski bukan diagnosis medis, kondisi ini menjadi perhatian karena erat kaitannya dengan kebiasaan digital sehari-hari.
“Ini namanya buka sosmed yang nggak ada tujuannya, kita malah dapat efek kelonjakan dopamin yang negatif,” tambahnya.
Doomscrolling biasanya terjadi saat seseorang terus-menerus mengonsumsi berita negatif seperti bencana atau konflik. Kebiasaan ini awalnya dipicu rasa ingin tahu, namun lama-kelamaan menjadi sulit dihentikan.
“Kondisi ini membuat otak terus mencari sensasi serupa dari konten yang dikonsumsi sehingga sulit berhenti,” jelasnya.
Secara ilmiah, kebiasaan ini berkaitan dengan kerja otak, terutama bagian amigdala yang merespons ancaman. Paparan konten negatif secara terus-menerus membuat otak lebih waspada, sementara kemampuan berpikir rasional justru melemah.
“Akibatnya, seseorang lebih mudah merasa cemas dan kesulitan mengontrol kebiasaan tersebut,” lanjutnya.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan dampak serius dari doomscrolling terhadap kesehatan mental. Di antaranya meningkatkan stres, menurunkan kualitas tidur, hingga mengganggu produktivitas.
“Konsumsi berita berlebihan dapat menciptakan siklus berbahaya yang membuat seseorang terus mencari informasi negatif,” ungkap hasil studi yang dikutip.
Meski demikian, kebiasaan doomscrolling masih bisa dikendalikan dengan langkah sederhana seperti membatasi waktu penggunaan media sosial. Penggunaan fitur pengingat atau screen time juga dinilai efektif membantu mengontrol durasi penggunaan.
“Kalau punya HP canggih, gunakan fiturnya, aktifkan App Time Limit misalnya 30 menit sehari,” kata Budi.







Comments