STARJOGJA.COM,JOGJA – Upaya menciptakan lingkungan kerja yang adil dan inklusif terus menjadi perhatian berbagai pihak. Konsep equal workplace atau tempat kerja yang setara dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan bersama.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa bias dan stereotipe gender masih kerap ditemui, termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (P3AP2) DIY, Erlina Hidayati Sumardi, S.I.P., M.M., mengakui bahwa stigma terhadap perempuan di dunia kerja masih ada. Menurutnya, stereotipe yang kerap muncul antara lain anggapan bahwa perempuan tidak mampu memimpin, tidak bisa bekerja seimbang, atau dianggap lebih lemah dibanding laki-laki.
“Penilaian seperti itu sebenarnya sangat personal dan tidak bisa digeneralisasi. Tidak semua perempuan seperti itu. Stereotipe tersebut sering kali dipengaruhi oleh latar belakang pengalaman hidup seseorang,” ujar Erlina.
Ia menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Banyak contoh perempuan yang mampu menjadi pemimpin dan menunjukkan kinerja yang baik. Meski demikian, perempuan masih menghadapi sejumlah hambatan dalam dunia kerja, baik yang bersifat struktural maupun kultural.
Di lingkungan Pemerintah Daerah DIY sendiri, Erlina menyebutkan bahwa komitmen terhadap kesetaraan gender sudah cukup kuat. Menurutnya, para pemimpin di DIY memiliki perspektif yang responsif gender sehingga praktik diskriminasi dalam birokrasi relatif dapat diminimalkan.
“Di lingkungan kerja Pemda DIY tidak ada diskriminasi. Saat ini posisi eselon I diisi oleh seorang perempuan yaitu Sekretaris Daerah. Di tingkat eselon II juga ada sekitar 13 perempuan yang menjabat,” jelasnya.
Bahkan, DIY pernah mendapatkan penghargaan tingkat nasional terkait tingginya jumlah perempuan yang menduduki posisi strategis dalam pemerintahan daerah.
Sementara itu, Dr. A. B. Widyanta, M.A., Ketua Social Research Center (Sorec) Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada, menekankan bahwa kesetaraan merupakan prasyarat penting untuk membangun kerja sama yang lebih kohesif di lingkungan kerja.
“Equality atau kesetaraan adalah prasyarat untuk menciptakan kerja sama yang lebih solid dan kohesif dalam organisasi,” katanya.
Meski demikian, Widyanta mengakui bahwa stigma dan stereotipe gender masih menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama. Ia menilai perubahan tidak hanya dibebankan pada perempuan, tetapi juga membutuhkan refleksi dari laki-laki.
“Laki-laki juga perlu melakukan refleksi diri. Stigma dan stereotipe terhadap perempuan harus terus direduksi agar tercipta lingkungan kerja yang lebih adil dan sehat,” tambahnya.
Dengan semakin kuatnya kesadaran akan pentingnya kesetaraan gender, berbagai pihak berharap konsep equal workplace dapat terus diwujudkan di berbagai sektor.
“Lingkungan kerja yang responsif gender tidak hanya membuka peluang yang sama bagi perempuan dan laki-laki, tetapi juga menciptakan budaya kerja yang lebih produktif, kolaboratif, dan berkelanjutan,” tutup Erlina.







Comments