STARJOGJA.COM, Info – Rheumatoid Arthritis (RA) tidak lagi dapat dianggap sebagai penyakit orang lanjut usia karena kasusnya banyak ditemukan pada kelompok usia produktif. Penyakit yang masuk kategori autoimun ini menyerang sendi secara progresif dan berpotensi menyebabkan kecacatan permanen bila tidak ditangani sejak dini.
“Rematik itu jenisnya lebih dari seratus. Rheumatoid Arthritis termasuk yang serius karena bersifat autoimun, artinya sistem kekebalan tubuh menyerang sendinya sendiri,” ujar Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia dalam talkshow Bincang Spesial 101,3 Star FM bersama Laboratorium Cito Yogyakarta.
Ia menjelaskan, RA paling sering menyerang sendi-sendi kecil seperti jari tangan dan kaki, serta muncul secara simetris di sisi kanan dan kiri tubuh. Kondisi ini kerap diawali dengan rasa kaku pada pagi hari yang berlangsung lebih dari 30 menit dan nyeri yang tidak kunjung membaik.
“Kalau sendi terasa kaku di pagi hari, nyeri di kedua tangan atau kaki secara bersamaan, dan berlangsung lebih dari dua minggu, itu sudah harus dicurigai. Jangan dianggap hanya pegal biasa,” tegasnya.
Prof. Nyoman menambahkan bahwa perempuan memiliki risiko lebih tinggi dibanding laki-laki karena faktor hormonal, terutama pengaruh estrogen. Penyakit ini bahkan dapat mulai muncul pada usia 20 hingga 30 tahun, masa ketika seseorang sedang aktif bekerja dan beraktivitas.
“Sering kali pasien datang sudah dalam kondisi sendi mulai berubah bentuk. Padahal kalau terdeteksi lebih awal, kita bisa menekan peradangan dan mencegah kerusakan permanen,” jelasnya.
Ia menekankan jika RA merupakan penyakit kronis yang tidak selalu bisa sembuh total, melainkan dapat masuk fase remisi apabila dikontrol dengan baik. Tanpa pengobatan rutin dan pemantauan medis, peradangan bisa berlanjut dan menyerang organ lain.
“Yang kita khawatirkan bukan hanya sendi bengkok, tetapi juga komplikasi ke paru-paru, jantung, atau ginjal. Karena ini penyakit sistemik, dampaknya bisa luas,” ujarnya.
Menurutnya, penanganan RA memerlukan kombinasi terapi obat, pemantauan berkala, serta perubahan gaya hidup. Pasien juga perlu berhati-hati dalam penggunaan obat anti-nyeri karena konsumsi jangka panjang tanpa pengawasan dokter dapat menimbulkan efek samping.
“Jangan minum obat sendiri terus-menerus tanpa kontrol. Obat anti-nyeri ada yang bisa berdampak ke lambung, ginjal, bahkan jantung kalau tidak diawasi,” katanya.
Diagnosis Penyakit Rheumatoid Arthritis
Diagnosis RA tidak hanya bergantung pada gejala klinis, tetapi juga memerlukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan adanya proses autoimun dan inflamasi. Pemeriksaan ini membantu dokter menentukan jenis rematik sekaligus memantau respons terapi.
Wakil Kepala Cabang Laboratorium Cito Yogyakarta, Ermawan Teguh Fitriyanto, S.Tr.A.K, M. Biomed, menjelaskan bahwa terdapat sejumlah tes spesifik yang umum dilakukan pada pasien dengan kecurigaan Rheumatoid Arthritis.
“Beberapa pemeriksaan yang biasa dilakukan antara lain Rheumatoid Factor atau RF, Anti-CCP, kemudian penanda inflamasi seperti CRP dan LED. Pemeriksaan ini membantu dokter memastikan diagnosis dan tingkat peradangannya,” jelasnya.
Ia menyebutkan bahwa sebagian hasil pemeriksaan dapat diperoleh dalam waktu relatif cepat. Tes seperti RF dan CRP umumnya dapat diketahui hasilnya dalam waktu sekitar dua jam, sementara pemeriksaan Anti-CCP membutuhkan waktu kurang lebih dua hari karena proses analisis yang lebih spesifik.
“Untuk RF dan CRP, pasien bisa menunggu sekitar dua jam. Sedangkan Anti-CCP memang membutuhkan waktu lebih lama karena pengujiannya lebih detail,” ujarnya.
Ermawan menambahkan bahwa pemeriksaan dilakukan melalui pengambilan sampel darah dan tidak mengharuskan pasien berpuasa. Namun pasien perlu menyampaikan riwayat konsumsi obat tertentu seperti steroid atau obat imunosupresan karena dapat memengaruhi hasil tes.
“Kami biasanya menanyakan riwayat obat yang dikonsumsi pasien. Informasi ini penting agar hasil pemeriksaan bisa diinterpretasikan dengan tepat oleh dokter,” katanya.
Selain layanan pemeriksaan di laboratorium, Laboratorium Cito Yogyakarta juga menyediakan layanan home service atau pengambilan sampel darah di rumah untuk memudahkan pasien dengan keterbatasan mobilitas. Layanan ini dapat dijadwalkan sesuai kebutuhan pasien melalui layanan pelanggan.
“Kami menyediakan layanan home service, jadi petugas kami bisa datang ke rumah untuk pengambilan sampel. Ini membantu pasien lansia atau yang sulit datang langsung ke laboratorium,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa Laboratorium Cito telah dilengkapi sistem informasi digital yang memungkinkan pasien mengakses hasil pemeriksaan secara daring. Melalui aplikasi resmi dan layanan pelanggan, pasien dapat memantau hasil tanpa harus kembali ke lokasi laboratorium.
“Hasil pemeriksaan bisa diakses secara online melalui aplikasi kami. Jadi pasien tidak perlu datang kembali hanya untuk mengambil hasil,” tambahnya.
Laboratorium Cito Yogyakarta turut menyediakan berbagai paket pemeriksaan kesehatan lainnya, mulai dari medical check-up rutin, pemeriksaan gula darah dan kolesterol, fungsi hati dan ginjal, hingga pemeriksaan penunjang penyakit autoimun dan infeksi. Dengan fasilitas tersebut, masyarakat diharapkan dapat lebih mudah melakukan deteksi dini berbagai penyakit.
“Kami ingin masyarakat semakin sadar pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala, bukan hanya saat sudah sakit. Deteksi dini itu kuncinya,” ujarnya.
Selain melayani pemeriksaan individu, Laboratorium Cito Yogyakarta juga menyediakan layanan medical check up untuk perusahaan dan institusi. Program ini dirancang untuk membantu perusahaan memantau kondisi kesehatan karyawan secara berkala sebagai bagian dari upaya pencegahan dan peningkatan produktivitas kerja.
“Kami juga melayani medical check up perusahaan, baik skala kecil maupun besar. Pemeriksaannya bisa disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan dan dapat dilakukan di laboratorium maupun secara on site di lokasi kerja,” ujar Ermawan Teguh Fitriyanto.
Melalui edukasi kesehatan seperti ini, masyarakat diharapkan lebih waspada terhadap gejala rematoid artritis dan tidak menunda pemeriksaan. Deteksi dini dan penanganan yang tepat menjadi langkah utama untuk menjaga kualitas hidup tetap optimal.
Baca juga : Cara Alami Atasi Nyeri Lutut Pada Lansia







Comments