Lifestyle

Lindungi Petani Salak Lereng Merapi Arif Reksa Raih Penghargaan Mahasiswa Berprestasi Utama FH UMY

0
petani salak merapi
Arif reksa sedang berbincang dengan petani salak merapi (arif reksa)

STARJOGJA.COM, Info – Kepedulian terhadap nasib petani salak di lereng Gunung Merapi mengantarkan Arif Reksa Pambudi, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), meraih anugerah nasional atas gagasan pemberdayaan desa berbasis kolaborasi hukum dan ekonomi. Melalui konsep ACONSI (Agro Constitutional Shield), Arif Reksa menawarkan solusi konkret untuk keluar dari jerat kemiskinan struktural yang selama ini membelit petani salak Desa Srumbung.

 

Cerita gagasan tersebut bermula dari rasa penasaran Arif saat melakukan riset lapangan di Desa Srumbung yang dikenal sebagai sentra salak unggulan nasional. Namun di balik status tersebut, Arif justru menemukan kondisi yang berbanding terbalik dengan kesejahteraan petaninya.

 

“Desa Srumbung itu diakui oleh pemerintah sebagai sentra salak terbaik di Indonesia, tapi kok petani-petaninya di sana itu banyak yang mengeluhkan akan banyak hal, termasuk terkait harga yang anjlok, kemudian alih fungsi lahan dan lain sebagainya,” ujar Arif kepada STARJOGJA.COM.

 

Ironi semakin terasa ketika Arif mendapati fakta bahwa harga salak saat panen raya bisa jatuh hingga Rp1.000 per kilogram. Di saat yang sama, lahan pertanian salak yang menjadi sumber penghidupan warga terus terancam alih fungsi akibat maraknya aktivitas tambang pasir ilegal di kawasan lereng Merapi.

Kondisi geografis wilayah tersebut menjadikan pasir sebagai komoditas bernilai tinggi, namun justru menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan pertanian salak.

 

“Di sisi lain, mereka dihantui ketakutan karena lahan produktif atau yang biasa kita sebut emas hijau di sana, terus tergerus oleh tambang pasir ilegal atau yang kita sebut emas hitam,” jelasnya.

 

Melalui serangkaian diskusi dengan pengurus Gapoktan, kepala Gapoktan Desa Srumbung Agustinus Suryono, serta warga setempat, Arif memetakan persoalan yang dihadapi petani. Dari proses tersebut, ia sampai pada kesimpulan bahwa kemiskinan yang dialami warga bersifat struktural.

 

“kemiskinan mereka bukan karena malas, tapi karena terjebak oleh sistem. Sistem yang memang sudah menjadi lingkaran ketergantungan mereka. Mereka enggak punya kuasa nentuin harga dan enggak punya perlindungan hukum yang kuat atas tanah mereka sendiri,” ungkap Arif.

 

Berangkat dari pemahaman tersebut, Arif menyusun gagasan ACONSI yang menitikberatkan pada tiga strategi utama. Pertama, proteksi lahan melalui pendampingan desa dalam penyusunan Peraturan Desa (Perdes) dan zonasi lahan hijau agar lahan pertanian tidak mudah dialihfungsikan.

Kedua, ekonomi sirkular dengan mengolah limbah salak menjadi produk bernilai ekonomi. Ketiga, akselerasi ekspor melalui pemanfaatan teknologi digital berbasis QR Code untuk memperluas akses pasar internasional.

 

“Kita pakai teknologi digital QR Code, biar salak kita bisa masuk pasar Eropa dengan harga yang lebih tinggi, jadi kesejahteraan masyarakat di sana terangkat,” katanya.

 

Arif Reksa mengatakan saat ini limbah salak yang hanya jadi sampah, ternyata dapat diolah menjadi briket, pakan ternak, hingga produk turunan seperti keripik, dodol, teh herbal dari kulit salak, dan kopi biji salak zero kafein,” paparnya.

 

Gagasan ini dirancang agar langsung dapat dieksekusi. Tahapan implementasinya meliputi pemetaan digital batas lahan warga, pelatihan pengolahan limbah bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) dan pemuda desa, hingga pembentukan sistem ekspor satu pintu berbasis BUMDes atau Gapoktan untuk memperkuat posisi tawar petani di pasar global.

 

Arif menegaskan bahwa keberhasilan penyusunan gagasan ACONSI tidak lepas dari peran dosen pembimbing sekaligus mentornya, Yordan Gunawan. Menurutnya, gagasan ini merupakan hasil kolaborasi agar ide yang disusun tidak berhenti pada tataran konsep semata.

 

“Ini perlu juga di highlight karena memang,   tidak semata-mata ini kontribusi saya, tapi juga berkat dari Pak Yordan,” ujarnya.

 

Atas gagasan tersebut, Arif dianugerahi penghargaan sebagai pemuda berprestasi di tingkat nasional. Penghargaan ini dinilai sebagai pengakuan atas kontribusi nyata generasi muda dalam menghadirkan solusi berbasis hukum dan pemberdayaan ekonomi desa.

Sebagai pemuda pelopor, Arif memosisikan dirinya sebagai jembatan antara petani dan akses pengetahuan hukum serta teknologi. Ia ingin mengubah stigma bahwa petani identik dengan kemiskinan dan keterbelakangan.

 

“Saya karena saya ingin meyakinkan pemuda desa bahwa menjadi petani itu keren, menjanjikan dan juga modern. Jadi tidak semerta merta petani itu erat kaitannya dengan kumuh, kotor dan juga miskin. Karena saat ini sudah berbeda semua,” tegasnya.

 

Arif berharap model aksi ACONSI dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain di Indonesia yang menghadapi persoalan serupa. Ia juga berharap gagasan tersebut dapat membawa nama baik UMY dan Yogyakarta, sekaligus membuktikan bahwa kolaborasi anak muda mampu menjadi kunci bagi kesejahteraan desa.

 

Baca juga : Dari Hama Menjadi Pupuk, Cara Petani Muda Sleman Berinovasi

Bayu

Asal Mula Nama Virus Nipah, Ini Penjelasan Pakar

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Lifestyle