STARJOGJA.COM,INFO — Pergeseran Makna Pernikahan Untuk Anak Muda mulai terjadi. Psikolog sekaligus Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Fiska Puspa Arinda, mengungkapkan adanya perubahan cara pandang generasi muda terhadap pernikahan.
Saat ini, banyak anak muda mulai memaknai pernikahan sebagai sesuatu yang berat, baik secara ekonomi maupun mental. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor menurunnya angka pernikahan di Indonesia, termasuk di Kota Solo, dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Fiska, pernikahan kini tidak lagi dianggap sebagai kewajiban hidup, melainkan pilihan pribadi yang harus benar-benar membawa kebahagiaan.
“Banyak anak muda merasa belum aman secara ekonomi, lebih mengutamakan kebebasan personal, dan sebagian memiliki trauma terkait pernikahan. Ini membuat mereka berpikir ulang untuk menikah,” ujarnya saat diwawancarai Espos, Kamis (22/1/2026).
Ia menjelaskan, ekspektasi terhadap pasangan juga semakin tinggi. Generasi muda berharap pasangan yang komunikatif, suportif, dan mampu memberi rasa nyaman. Namun, realitas ekonomi yang belum stabil, pekerjaan yang tidak pasti, serta ketakutan akan kegagalan rumah tangga atau perceraian membuat banyak orang memilih menunda bahkan menghindari pernikahan.
“Ketika ekspektasi tinggi bertemu dengan kondisi ekonomi yang belum mendukung, muncul kecemasan. Ditambah gaya hidup yang semakin individual, fokus pada pengembangan diri dan kebebasan membuat pernikahan tidak lagi menjadi prioritas utama,” jelas Fiska.
Selain faktor ekonomi dan gaya hidup, trauma masa lalu juga menjadi alasan penting. Pengalaman tumbuh di lingkungan keluarga yang tidak harmonis atau menyaksikan konflik rumah tangga di sekitar dapat meninggalkan luka psikologis. Trauma ini membuat seseorang lebih berhati-hati dalam membangun hubungan jangka panjang.
Fiska menilai, pola ini memiliki kemiripan dengan yang terjadi di Jepang dan Korea Selatan, meski Indonesia belum sampai pada tahap yang sama.
“Di Jepang dan Korea, pernikahan sering dianggap melelahkan secara mental, penuh tuntutan, dan minim dukungan emosional. Budaya kerja yang keras serta peran gender yang kaku memperparah kondisi tersebut,” ungkapnya.
Di Indonesia sendiri, tekanan sosial untuk menikah memang masih kuat. Namun, semakin banyak anak muda yang merasa beban ekonomi, mental, dan tanggung jawab dalam pernikahan cukup berat untuk dihadapi saat ini.
Dalam konteks keluarga dan masyarakat, Fiska menekankan pentingnya peran pemerintah dan lingkungan sosial untuk menciptakan rasa aman bagi generasi muda. Mulai dari jaminan kerja, akses perumahan yang terjangkau dan layak, hingga edukasi tentang relasi dan pernikahan yang sehat.
“Budaya pernikahan juga perlu lebih adaptif, misalnya dengan membiasakan pola pengasuhan bersama atau co-parenting. Tugas rumah tangga dan pengasuhan anak bukan hanya tanggung jawab ibu, tetapi juga ayah,” pungkasnya.
Pendekatan yang lebih realistis, suportif, dan setara diharapkan dapat membantu keluarga muda membangun rumah tangga yang sehat serta berkelanjutan di tengah tantangan zaman.
Baca juga : Cucuk Lampah Simbol Tolak Bala dalam Pernikahan Jawa







Comments