STARJOGJA.COM, Info – Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel tidak hanya secara nyata namun juga secara maya. Kelompok peretas atau hacker Iran menyasar infrastruktur vital Amerika Serikat dan mengganggu rantai pasok barang-barang lebih dari 61 negara.
Akibat serangan ini, AS merespons dengan menyita infrastruktur digital milik kelompok peretas pro-Iran Handala. FBI dalam keterangan resminya mengatakan domain yang disita teridentifikasi memfasilitasi aktivitas siber berbahaya atas nama aktor negara asing. Otoritas mengambil kendali infrastruktur tersebut guna menghentikan operasi berbahaya dan mencegah eksploitasi lebih lanjut terhadap sektor privat.
“United States Government telah mengambil kendali atas domain ini untuk mengganggu operasi siber berbahaya yang sedang berlangsung,” tulis pengumuman penyitaan tersebut dilansir dari TechCrunch, Kamis (26/03/2026).
Penyitaan ini mencakup situs publikasi hasil retasan serta situs yang digunakan untuk aksi doxing terkait militer Israel. Serangan siber terhadap Stryker memberikan dampak operasional yang luas pada perusahaan dengan 56.000 karyawan tersebut. Stryker mengonfirmasi adanya gangguan sistem di 61 negara yang menghambat proses pesanan, manufaktur, dan pengiriman produk medis ke berbagai fasilitas kesehatan.
Berdasarkan laporan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) Amerika Serikat, insiden ini terkonfirmasi bukan merupakan serangan ransomware. Pelaku melakukan pencurian data sebesar 50 terabyte dan penghapusan sistem secara masif yang menyasar perangkat berbasis Windows.
Peneliti keamanan siber Kevin Beaumont mengatakan pelaku diduga mendapatkan akses ke layanan Active Directory milik perusahaan. Mereka memanfaatkan fitur Microsoft Intune untuk menghapus data pada ratusan ribu server, komputer, dan ponsel karyawan secara jarak jauh melalui kebijakan bring-your-own-device.
Kelompok Handala mengeklaim aksi tersebut sebagai balasan atas serangan militer pemerintah Amerika Serikat terhadap sebuah sekolah di Iran. Mereka menargetkan Stryker karena status perusahaan sebagai kontraktor utama Departemen Pertahanan AS dengan nilai kontrak mencapai US$450 juta atau sekitar Rp7,61 triliun.
Kehadiran bisnis Stryker di Israel, termasuk akuisisi produsen perangkat ortopedi OrthoSpace pada 2019, turut menjadi pemicu utama serangan tersebut. Kelompok peretas ini mengidentifikasi korporasi yang berbasis di Michigan itu memiliki keterkaitan erat dengan kepentingan strategis militer Barat.
Vice President of AI Strategy & Security Research Exabeam Steve Povolny mengatakan operasi siber kini menjadi pilihan respons asimetris selama periode ketegangan politik regional. Kelompok proksi memberikan ruang bagi negara penyokong untuk memiliki penyangkalan yang masuk akal atas aksi destruktif tersebut.
“Grup seperti Handala mengaburkan garis antara aktivisme dan operasi negara untuk mencapai sinyal strategis tertentu,” kata Povolny dalam pernyataan resmi di California, Selasa, (10/03/2026).
Menurutnya, organisasi yang secara tradisional tidak menganggap diri mereka sebagai target geopolitik kini mulai terancam. Penyelidik spionase siber independen Nariman Gharib mengatakan penyitaan infrastruktur oleh FBI tersebut efektif mengganggu struktur organisasi kelompok peretas.
Namun, ia memperingatkan bahwa aktivitas kebocoran data kemungkinan akan tetap berlanjut melalui kanal media lain yang berafiliasi dengan negara. Field CTO Claroty Skip Sorrels mengatakan keamanan siber di sektor kesehatan kini harus diprioritaskan sebagai bagian dari keselamatan pasien secara menyeluruh.
Peretas cenderung mencari jalur dengan hambatan terkecil untuk menguasai akses administratif dan melumpuhkan operasional sistem fisik-siber. Stryker saat ini terus berkoordinasi dengan Direktur Siber Nasional Gedung Putih dan Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) untuk investigasi mendalam. Investigasi terkait dampak pencurian data masif tersebut masih terus berlangsung guna menentukan mitigasi jangka panjang bagi perusahaan.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga : Iran Bakal Eksekusi Warga yang Pakai Starlink






Comments