Lifestyle

Benteng Pendem Cilacap, Jejak Pertahanan Belanda yang Ramai Dikunjungi Saat Lebaran

0
Benteng Pendem Cilacap
Benteng Pendem Cilacap (antara)

STARJOGJA.COM, Info –  Benteng Pendem Cilacap menjadi salah satu peninggalan sejarah kolonial yang masih bertahan di pesisir selatan Pulau Jawa. Benteng ini menyimpan cerita panjang tentang strategi pertahanan Belanda pada abad ke-19.

“Benteng tersebut dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1861 hingga 1879,” ujar Sub Koordinator Lapangan Benteng Pendem Cilacap, Aris, Selasa (17/3/2026).

Nama “Pendem” sendiri berasal dari metode pembangunannya yang unik, yakni bangunan yang telah selesai kemudian ditimbun tanah hingga terlihat seperti terkubur. Dalam bahasa Jawa, “pendem” berarti timbun, sementara dalam bahasa Belanda benteng ini dikenal sebagai Kustbatterij op de Lantong te Tjilatjap.

“Karena bangunannya ditimbun tanah, masyarakat menyebutnya benteng dipendem,” katanya.

Benteng ini dibangun sebagai bagian dari sistem pertahanan untuk menghadang kapal musuh yang hendak masuk ke wilayah Cilacap. Pada masa itu, jalur laut menjadi akses utama transportasi sehingga kawasan pesisir memiliki peran strategis.

Benteng Pendem juga menjadi pertahanan kedua setelah benteng di kawasan Nusakambangan. Lokasinya yang menjorok ke laut dimanfaatkan sebagai titik pengawasan pergerakan kapal.

“Posisinya memang strategis untuk mengawasi kapal yang masuk,” ujar Aris.

Keunikan lain dari benteng ini adalah sebagian besar bangunannya berada di bawah tanah dan baru digali kembali pada 1986 hingga 1987 setelah lama tertimbun. Di dalamnya terdapat sekitar 102 bangunan peninggalan Belanda dan Jepang dengan metode konstruksi yang berbeda.

“Kalau Belanda membangun dulu baru ditimbun, kalau Jepang membuat lubang dulu baru dibangun,” jelasnya.

Perbedaan juga terlihat pada material yang digunakan, di mana Belanda memakai batu bata dengan berbagai ukuran dan warna, sedangkan Jepang menggunakan beton untuk struktur bangunan.

“Batu batanya beragam, dari ukuran kecil hingga besar dengan warna kuning dan merah,” kata Aris.

Benteng ini dilengkapi berbagai fasilitas militer seperti barak prajurit, ruang logistik, hingga penjara dengan dinding setebal sekitar 2,5 meter yang mampu menampung hingga 30 orang. Salah satu daya tarik utama adalah terowongan sepanjang sekitar 150 meter yang dilengkapi ruang meriam.

“Di sana ada empat pintu masuk dan satu pintu keluar menuju arah laut untuk kondisi darurat,” ujarnya.

Terowongan tersebut digunakan sebagai jalur evakuasi saat kondisi darurat, meski tidak terhubung dengan Pulau Nusakambangan seperti yang sering menjadi cerita masyarakat.

“Kalau yang tembus ke Nusakambangan itu hanya cerita masyarakat saja,” katanya.

Benteng Pendem memiliki luas sekitar 10,5 hektare dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional sejak 22 Juni 2010. Saat ini, pengelolaannya dilakukan secara mandiri dari pendapatan tiket pengunjung.

“Pendapatan digunakan untuk operasional, termasuk perawatan dan gaji karyawan,” ujar Aris.

Dalam perawatan, pengelola menerapkan cara manual tanpa bahan kimia, termasuk dalam membersihkan rumput di area benteng.

“Pembersihan rumput tidak boleh menggunakan obat, harus dicabut manual,” katanya.

Selama bulan Ramadhan, jumlah pengunjung cenderung menurun dan dalam sehari terkadang hanya beberapa orang saja. Namun, kondisi tersebut berubah drastis saat momen Idulfitri.

“Kalau Lebaran bisa sekitar 500 sampai 1.000 pengunjung per hari,” ujarnya.

Mayoritas pengunjung berasal dari wilayah sekitar seperti Cilacap, Banyumas, dan Banjarnegara, namun tidak sedikit wisatawan dari luar daerah yang datang saat mudik.

“Biasanya terlihat dari plat kendaraan, banyak dari luar kota,” kata Aris.

Sejumlah titik seperti terowongan, barak, dan area penjara menjadi spot favorit pengunjung untuk berfoto. Selain itu, keberadaan rusa yang kerap muncul di kawasan benteng juga menjadi daya tarik tersendiri.

Benteng Pendem dibuka setiap hari pukul 06.00 hingga 17.00 WIB dengan harga tiket masuk Rp7.500 per orang. Pengelola berharap jumlah kunjungan wisatawan meningkat setelah Lebaran.

“Harapan kami setelah Lebaran pengunjung bisa meningkat,” ujar Aris.

Sumber : Antara

Baca juga : Harmoni Kolaborasi Art & Music Festival THE 1O1 Yogyakarta Tugu bersama Museum Benteng Vredeburg

Bayu

Pakar ITB Ingatkan Persiapan Matang Mudik Pakai Motor Listrik

Previous article

Ini Tips Mengelola Keuangan agar Tidak Boros Saat Lebaran

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Lifestyle